Kelestarian Mangrove Jaga Kualitas Budidaya Udang Vaname
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
LAMPUNG — Kelestarian ekosistem mangrove jenis bakau (rhizopora) dan api api (Aviicenia) berdampak positif bagi lingkungan pesisir. Terutama bagi petambak udang vaname, hutan bakau memiliki fungsi ekologis dalam penyediaan sumber air alami.

I Made Sudana, warga di Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) menyebutkan, sejumlah petambak tradisional di pesisir timur Lamsel mengandalkan kelestarian mangrove. Sebab vegetasi pada lahan berlumpur menjadi sabuk hijau (greenbelt) dari terjangan abrasi angin, gelombang air laut.
Suksesi alami tersebut membuat perairan sepanjang 2 kilometer dan panjang 400 meter pada sejumlah titik berubah menjadi daratan. Sejumlah saluran air dimanfaatkan warga untuk irigasi pada lahan tambak udang.
Kualitas air untuk kebutuhan tambak udang menurutnya cukup baik karena tersaring oleh perakaran pohon api api dan vegetasi tanaman pantai lain.
“Sampah perairan dan berbagai jenis potensi limbah tersaring secara alami mengendap pada wilayah vegetasi mangrove, selanjutnya dialirkan ke lahan tambak menghasilkan air berkualitas baik untuk budidaya udang vaname,” ungkap I Made Sudana saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (5/2/2020)
Perakaran pohon api api yang kuat menurut I Made Sudana semakin menambah endapan lumpur. Penambahan sedimen lumpur berpotensi memperluas daratan yang sudah ada. Keberadaan pohon api api sekaligus menjadi penahan saat adanya gelombang pasang sehingga tambak udang warga bisa terlindungi.
Sekretaris desa setempat, I Made Suwarno menyebutkan mangrove api api tumbuh sangat lama. Sebelum menjadi daratan perairan Desa Sumber Nadi menjadi lokasi untuk mencari ikan dengan sistem tangkap.
“Kesadartahuan masyarakat keberadaan mangrove api api menjaga kualitas udang budidaya membuat tanaman tetap dijaga,” bebernya.
Keharmonisan dengan alam pada wilayah desa yang mayoritas memeluk agama Hindu tersebut menurutnya sangat kental. Sebab kearifan lokal yang menyatu dengan nilai religi mendorong pengelolaan alam secara berkelanjutan. Lokasi hutan mangrove api api yang ada di dekat aliran sungai, pantai bahkan menjadi tempat untuk tradisi Melasti atau melarung sesaji.
Penyucian air, alam, makhluk hidup menjadikan kesadaran warga menjaga lingkungan semakin meningkat. Secara komunal pihak desa juga telah membuat peraturan desa (Perdes) untuk pengelolaan dan menjaga hutan mangrove.
Kepala Unit polisi kehutanan, Suyanto dari Kesatuan Pengelola Hutan Rajabasa-Way Pisang- Bukit Serampok menyebut reboisasi pesisir terus dilakukan. Peningkatan kesadaran masyarakat imbas dari bencana tsunami Lamsel pada 22 Desember 2018 silam. Keberadaan mangrove jenis bakau, api api menjadi benteng alami bagi perkampungan di pesisir.
Sebagai langkah penanaman ulang, sebanyak 60.000 bibit mangrove jenis bakau disediakan oleh KPH. Bekerjasama dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Hijau Lestari di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi ribuan bibit disiapkan. Sebagian masyarakat yang merupakan pembudidaya udang vaname menurutnya telah membantu penyiapan bibit. Sebanyak 2000 lebih bibit sebagian telah ditanam di pesisir.
“Semakin tinggi kesadaran warga pentingnya mangrove untuk sektor budidaya tambak, lingkungan membantu rebosisasi pesisir,” bebernya.