Belanja Seru Bersama Komunitas SOIna Semarang
SEMARANG — Raut kebahagiaan terpancar dari wajah Naila Wardani, siswa SLBN Semarang, bersama teman-teman yang tergabung dalam Special Olympics Indonesia atau SOIna Semarang, mereka berkesempatan mengikuti In-Store Shopping Experience di gerai Uniqlo, DP Mall Semarang, Rabu (19/2/2020).
Pada kegiatan tersebut, sebanyak 20 peserta, dibebaskan untuk memilih beragam produk yang ada di Uniqlo Semarang, sesuai keinginan mereka. Setiap peserta diberikan voucher belanja senilai Rp650 ribu, untuk berbelanja di toko dan didampingi oleh pendamping yang merupakan sukarelawan dari toko Uniqlo.
“Saya senang bisa ikut kesempatan ini, kebetulan saya sudah ingin jaket baru, “ papar Naila, sembari tersenyum.
Kegemberiaan yang sama juga dirasakan oleh anak lainnya. Mereka antusias memilih beragam produk, yang sesuai dengan kebutuhannya.Mulai dari baju, jaket, celana , rok hingga kacamata hitam.

HR Director PT Fast Retailing Indonesia, Christine Paruliana, menuturkan kegiatan In-Store Shopping Experience tersebut sudah dilaksanakan ke-15 kali.
“Pada kesempatan ini, kita undang anak-anak dari komunitas SOIna Semarang, yakni organisasi non-profit yang memberikan kesempatan bagi anak-anak penyandang disabilitas, untuk mengembangkan potensi mereka melalui berbagai jenis olahraga,” paparnya.
Melalui acara tersebut, pihaknya berharap dapat memberikan pengalaman berbelanja yang menyenangkan bagi peserta, dan dapat terus memotivasi masyarakat, khususnya anak-anak dari SOIna Semarang untuk menjadi lebih percaya diri.
“Bagaimana kita mampu membantu mengembangkan kepercayaan diri anak, ketika memilih jenis pakaian yang mereka butuhkan. Termasuk, bagaimana mengelola anggaran belanja serta belajar bertransaksi secara mandiri,” tandasnya lebih jauh.
Sementara, Ketua Umum SOIna Warsito Ellwein mengapresiasi kegiatan tersebut, sebagai wujud penghargaan dan apresiasi terhadap para atlet disabilitas, khususnya di Semarang.
“Selain usaha dari para pegiat difabel, dukungan pemerintah, swasta dan sikap masyarakat ikut menentukan, dalam upaya pengembangan yang baik akan mengantar kaum difabel menjadi manusia mandiri,” paparnya.
Dipaparkan, hal tersebut memerlukan konsistensi dan perhatian lebih luas semua pihak. “Sebuah organisasi seperti SOIna saja, tak akan mampu bekerja untuk 5 juta orang difabel intelektual,” tandasnya.