Warga Gunung Goci Jaga Kelestarian Lingkungan Lewat Kearifan Lokal
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
LAMPUNG — Kemarau panjang dan kekeringan tidak berpengaruh bagi ketersediaan air warga Gunung Goci, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang Lampung Selatan (Lamsel). Hal tersebut tidak terlepas dari kelestarian lingkungan yang selalu terjaga di daerah tersebut.
Kodrat Suwardi, warga di kawasan gunung Goci menyebutkan, sebuah gunung berbentuk guci tetap dibiarkan terjaga alami oleh masyarakat setempat. Sejumlah pohon langka masih terjaga dengan baik seperti bayur elang, ingas, beringin apak, serut, laban, gayam. Berbagai jenis tanaman tersebut sebagian tumbuh di mata air gunung goci dan daerah aliran sungai (DAS) Sungai Gajah Mati. Rumpun bambu berbagai jenis meliputi bambu duri/ori, petung, apus, tamiang dan bambu hitam tumbuh subur.
Berbagai jenis tanaman yang dijaga menurut Kodrat Suwardi berusia puluhan hingga ratusan tahun.
“Kawasan gunung goci sebagian berada pada wilayah tanah adat sehingga upaya konservasi sangat dijaga, terlebih wilayah lahan miring kerap rawan longsor sehingga harus ditanami berbagai jenis pohon peresap air,” ungkap Kodrat Suwardi saat dikonfirmasi Cendana News di aliran sungai Gajah Mati, Rabu (15/1/2020)
Penamaan sungai Gajah Mati disebutnya erat kaitannya dengan kondisi wilayah tersebut. Sebab puluhan tahun silam wilayah itu masih dihuni berbagai satwa termasuk gajah. Sebagian gajah yang mati berada di sungai yang kini dikenal sebagai sungai gajah mati dengan batu lapis dan air terjun yang masih alami.
Kodrat Suwardi yang juga kepala dusun setempat mengaku sudah membuat aturan larangan penebangan pohon. Larangan tersebut dilakukan pada sejumlah wilayah resapan air dan DAS Sungai Gajah Mati.
“Keberadaan sumber air dilengkapi dengan sumur bor komunal lalu dialirkan ke perumahan warga memenuhi kebutuhan air sehari hari,” beber Kodrat Suwardi.
Kearifan lokal menjaga lingkungan disebut Kodrat Suwardi dikombinasikan dengan profesi warga sebagai petani.
Ia menyebutkan warga memilih jenis pohon Multy Purpose Tree Species (MTPS) meliputi jenis kemiri, durian, jengkol, petai, kelengkeng. Berbagai jenis tanaman itu sengaja dilestarikan karena memiliki fungsi menjaga oksigen, peresap air dan bisa memberi penghasilan ekonomi dari bagian buah tanpa menebang pohon.
“Kami memperhitungkan warisan bagi anak cucu dengan menjaga pohon agar sumber air terjaga,” cetusnya.
Gilang dan Safrudin, petani di wilayah setempat mengaku kearifan menjaga lingkungan tetap dipertahankan. Sejumlah pohon langka masih dilestarikan dengan sistem peremajaan.
“Penebangan untuk bahan bangunan tetap ada namun sebagian langsung diremajakan dengan tanaman baru,” ungkap Gilang.

Gilang diamini Safrudin menyebut bahaya longsor menjadi ancaman lingkungan di wilayah itu. Namun keberadaan tanaman yang dilarang untuk ditebang menjadikan warga tidak kuatir akan bencana alam.
Kelestarian alam yang terjaga menurut Safrudin sekaligus menjadi warisan generasi mendatang. Selain itu sebagai sumber kehidupan air yang terjaga bisa digunakan untuk lahan pertanian bagi pendapatan warga tanpa merusak alam.