Vihara Dharma Sasana Kalianda Berbenah Jelang Imlek

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Vihara Dharma Sasana atau Tjo Soe Kong berbenah jelang perayaan Imlek 2571 yang jatuh pada hari Sabtu, 25 Januari 2020.

Romo Gunawan Salim, pengurus Vihara Dharma Sasana mengatakan tidak ada persiapan khusus menjelang perayaan tahun baru Tionghoa tersebut. Ia menyebut Imlek menjadi perayaan kultural etnis Tionghoa yang ada di wilayah Kalianda.

Ia menambahkan, sesuai data di wilayah Kalianda ada sekitar 60 warga yang merayakan Imlek. Sejumlah warga yang beretnis Tionghoa tinggal di wilayah Pasar Lama, Kampung Cina dan Rawa Rawa. Bersama pengurus vihara lain ia menyebut telah melakukan pembersihan rupang atau patung Budha dan sejumlah dewa. Ritual pembersihan rupang telah dilakukan pada Minggu (19/1) silam.

Selain pembersihan rupang, tempat dupa atau hiolo, halaman, ruangan dalam vihara juga dibersihkan. Pembersihan vihara dilakukan untuk menyambut warga yang beragama Budha dan warga lain merayakan Imlek. Sebab sebagai perayaan budaya warga yang beretnis Tionghoa akan datang ke vihara untuk berdoa atau sekedar berkunjung.

Ia menyebut sesuai tradisi etnis Tionghoa, pergantian tahun akan dirayakan dengan beragam acara. Bagi yang beragama Budha, perayaan Imlek dilakukan di vihara dan sebagian umat Kristen merayakan Imlek di gereja. Sebagai perayaan kebudayaan, vihara juga ikut berbenah untuk menyambut etnis Tionghoa dari berbagai wilayah yang akan pulang ke Kalianda.

“Imlek tahun ini jatuh pada akhir pekan bagi keluarga yang merantau bisa pulang kampung untuk silaturahmi,” ungkap Gunawan Salim.

Gunawan Salim, pengurus Vihara Dharma Sasana atau Tjo Soe Kong di Kelurahan Bumi Agung Kecamatan Kalianda Lampung Selatan saat persiapan Imlek 2571, Rabu (22/1/2020). -Foto: Henk Widi

Sesuai dengan penanggalan Tionghoa, tahun ini masih memasuki Shio Babi. Pada pergantian tahun baru Imlek, ia menyebut akan memasuki Shio tikus logam. Berbagai harapan untuk tahun yang baru kerap diwujudkan dalam doa yang dilakukan oleh setiap keluarga. Persiapan lilin dan hio atau dupa sudah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan umat yang akan bersembahyang.

Sesuai tradisi warga yang akan bersembahyang datang bersama keluarga. Sejumlah keluarga memilih melakukan kebaktian secara pribadi setelah aktivitas bersama keluarga. Kegiatan doa di vihara akan dilakukan Jumat (24/1) malam yang diisi dengan penyalaan lilin dan pembakaran dupa serta penyalaan kembang api dan lampion.

“Kami rayakan Imlek dengan sederhana sebagai simbol harapan akan tahun baru yang lebih baik,” ungkap Gunawan Salim.

Ratusan lilin dan hio telah disiapkan. Warga yang akan berkunjung kerap menyiapkan lilin bersama dengan kertas doa yang disiapkan. Penggunaan lilin konvensional yang masih dibakar masih jamak dilakukan meski sebagian telah diganti dengan lentera listrik. Sebagai antisipasi lilin meleleh tidak beraturan petugas disiapkan membersihkan lilin dominan warna merah saat dibakar.

Damuri, salah satu pengurus vihara lain menyebut persiapan Imlek dilakukan dengan membersihkan area vihara. Sejumlah patung liong atau naga, singa dibersihkan memakai kain lap. Selain itu fasilitas tambur yang akan dibunyikan setiap jam 12 malam sebagai tanda sembahyang dimulai. Sejumlah persiapan untuk perayaan Imlek dilakukan agar umat yang akan berdoa di Vihara bisa nyaman.

“Warga yang pulang dari Jakarta dan Palembang dengan adanya jalan tol Sumatera semakin banyak karena perjalanan lancar,” ungkap Damuri.

Lokasi vihara yang ada di dekat dermaga Bom Kalianda menurutnya kerap dikunjungi.  Sebagai vihara tertua di Kalianda, bangunan diperkirakan sudah ada semenjak Krakatau meletus atau 1883 silam. Arsitektur vihara yang unik, menjadi tempat yang patut dikunjungi sebagai salah satu wisata budaya dan sejarah.

Lihat juga...