Tekan Disparitas Harga, BI Purwokerto Jembatani Antarpetani Hortikultural

Editor: Makmun Hidayat

Kepala Bank Indonesia (BI) Cabang Purwokerto, Agus Chusaini, Kamis (16/1/2020) di Purwokerto menjelaskan tetang inflasi. -Foto: Hermiana E. Effendi

PURWOKERTO — Bank Indonesia (BI) Purwokerto menginisiasi untuk menjembatani komunikasi antarpetani hortikultural. Hal tersebut dilakukan untuk menekan disparitas harga antar daerah di empat kabupaten wilayah BI Purwokerto.

Kepala BI Purwokerto, Agus Chusaini mengatakan, setelah terjalin komunikasi antarpetani hortikultural, stok barang-barang cenderung stabil di semua wilayah. Tentu saja, dari sisi harga juga menjadi stabil.

“Jadi misalnya di daerah tertentu stok bawang putih habis atau langka, maka petani di wilayah lain yang memiliki stok barang tersebut akan mengirim, setelah terjadi kesepakatan harga. Sehingga kekurangan jenis hortikultural tertentu di suatu wilayah akan segera teratasi dengan pengiriman dari wilayah lain yang stoknya melimpah,” terang Agus Chusaini, Kamis (16/1/2020).

Program tersebut baru berjalan satu bulan dan jika dalam perkembangannya cukup efektif dan bisa menekan disparitas harga antar wilayah, maka BI Purwokerto akan mengusulkan program tersebut diterapkan di wilayah yang lebih luas, di Propinsi Jawa Tengah misalnya.

Barang yang bisa dikendalikan harganya melalui forum komunikasi antar petani hortikultural ini meliputi semua jenis hortikultural, dari cabai, sayuran, bawang merah, barang putih dan lainnya.

Sementara itu, terkait stok beras, Agus menuturkan, sekarang ini banyak wilayah yang mengalami kemunduran pada masa tanam, mengingat faktor cuaca yang kurang bersahabat dengan petani. Sehingga bulan Februari yang seharusnya sudah masuk masa panen, justru nanti mengalami paceklik. Sebab, panen baru terjadi bulan April.

Sebagai antsipasi dari kemunduran masa tanam ini, BI Purwokerto sudah berkoordinasi dengan Bulog Sub Divre IV Banyumas dan Bulog menyatakan stok pangan masih aman. Bulog memiliki stok beras yang mencukupi dan siap untuk digelontorkan ke daerah yang membutuhkan.

“Kemunduran masa tanam ini, tentu akan berpengaruh terhadap inflasi, namun karena Bulog menyatakan stok mencukupi untuk didistribusikan ke wilayah-wilayah, maka pengaruh terhadap inflasi bisa ditekan,” jelasnya.

Untuk wilayah Kabupaten Banyumas, komoditas penyumbang inflasi terbesar pada bulan Desember 2019 adalah bawang merah, telur ayam ras dan jeruk. Dan untuk Kabupaten Cilacap komoditas penyumbang inflasi adalah beras, bawang merah dan telur ayam ras.

“Untuk deflasi lain lagi, penyumbang deflasi selama Desember 2019 di Banyumas adalah sayur buncis, daging ayam ras dan beras. Sementara untuk Kabupaten Cilacap , jeruk, daging ayam kampung dan ikan belanak,” pungkasnya.

Sementara itu, dari pantauan harga di Pasar Ajibarang, Kabupaten Banyumas, harga beras maupun hortikultural masih relatif stabil. Beras medium masih bertahan Rp 9.000 per kilogram, bawang putih Rp 32.000 per kilogram, cabe rawit merah Rp 40.000 per kilogram dan cabe merah keriting Rp 55.000 per kilogram.

“Harga sayuran masih stabil, hanya cabai yang harganya naik-turun, tetapi kenaikannya juga tidak terlalu tinggi,” kata salah satu pedagang di Pasar Ajibarang, Kusworo.

Lihat juga...