Perbaikan Jembatan Penghubung Jadi Prioritas Pascabanjir di Lebak
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LEBAK – Bupati Lebak, Provinsi Banten, Iti Octavia Jayabaya, menyampaikan kebutuhan mendesak penanganan pascabanjir di wilayah Kabupaten Lebak, adalah soal penanganan infrastruktur seperti jalan penghubung antardesa dan jembatan.
“Total jembatan baik permanen ataupun kembangan gantung ada 30. Dari jumlah tersebut 28 milik Kabupaten Lebak dua milik provinsi Banten,” ungkap Bupati Lebak, Iti, kepada Cendana News, Jumat (10/1/2020).
Sementara ungkapnya untuk gedung sekolah yang menjadi tanggungjawab kabupaten meliputi SD, PAUD, TK, ada 19 unit. Semuanya memerlukan penanganan segera.
Namun demikian dia mengklaim meskipun banyak sekolah yang hancur diterjang banjir bandang di wilayah setempat tetapi aktivitas belajar mengajar masih berjalan maksimal.
“Peserta didik tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan menumpang di sekolah lain atau tempat gedung kosong yang bisa dimanfaatkan dengan cara bergantian. Misal pagi dipakai sekolah SD siangnya SMP,” ujar Iti usai menerima bantuan Yayasan Ibu Tien Soeharto di gudang BPBD Lebak.

Diakuinya di sejumlah wilayah di enam kecamatan yang dihantam banjir bandang terjadi kerusakan parah terutama jembatan ada 28 bangunan. Dan di sana penyeberangan masih menggunakan perahu karet untuk aktivitas warga.
“Presiden sudah menginstruksikan jembatan mendesak antardesa, ini sangat urgen untuk jalur penghubung. Sekarang ada beberapa titik jembatan yang rusak, penyeberangan menggunakan perahu karet,” katanya.
Dalam kesempatan itu dia juga menyebut bahwa pemerintah masih terus melakukan pendataan kerusakan seperti jumlah masjid, madrasah, dan pondok pesantren. Sampai sekarang data tersebut belum diketahui.
“Jadi kami belum bisa merinci secara keseluruhan jumlah total kerugian akibat bencana banjir yang melanda di Kabupaten Lebak di enam kecamatan. Pastinya masih terus dilakukan penghimpunan,” tukasnya.
Dia menyebut bahwa bencana banjir bandang di wilayah Lebak di 30 desa pada enam kecamatan meluluhlantakkan pemukiman warga yang terdata ada 1.410 rumah yang rusak berat, 521 terendam dan 1.226 rumah warga yang hanyut dengan total 3.227 KK.
Menurutnya saat ini Kabupaten Lebak masih dalam status Tanggap Darurat hingga 14 Januari 2020. Dia memastikan bahwa pelayanan terus berjalan maksimal dengan sistem bergilir melalui Pokja.
Begitupun untuk kebutuhan logistik bagi warga terdampak banjir terpenuhi dengan maksimal. Bantuan kemanusiaan dari berbagai instansi, organisasi, yayasan atau perorangan terus mengalir.
“Kita bersyukur karena posko pengungsian tidak banyak terpisah, ada beberapa jadi kita mudah menyalurkannya,” ucapnya berterima kasih atas perhatian dari semua pihak atas musibah bencana di Lebak.