Peluang Usaha Musiman, Warga Penengahan Pilih Jual Durian
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Sejumlah warga Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) memilih memanfaatkan peluang sebagai pedagang buah durian.
Sumino, warga Desa Banjarmasin yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang ojek mengaku memilih menjadi penjual durian di tepi Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum). Sejak belasan tahun silam ia memilih menjadi penjual durian dengan sistem ngudokh dakian.
Sistem ngudokh dakian menurutnya dilakukan dengan cara membeli durian jatuh dari kebun warga. Ia menyebut memiliki sebanyak belasan pohon durian jenis ketan yang menghasilkan ratusan buah.

Selain hasil kebun yang diperoleh setiap musim durian ia menambah barang dagangan dari kebun milik warga lain. Buah durian yang diperoleh dari hasil jatuhan menurutnya memiliki rasa manis sehingga banyak dicari.
Pilihan berjualan durian di tepi Jalinsum menurutnya lebih menjanjikan. Sebab selama musim durian perputaran ekonomi lebih cepat. Sejumlah warga menurutnya kerap melakukan kegiatan nungguan dakhian gugokh (nunggu durian jatuh).
Pemilik kebun yang tidak sempat menjaga durian akan mengupah orang lain untuk menunggu dan memungut durian jatuh.
“Penunggu akan diberi upah sesuai kesepakatan lalu saya membeli dari penunggu durian jatuhan untuk dijual kembali di tepi Jalinsum sementara meninggalkan profesi sebagai tukang ojek,” ungkap Sumino saat ditemui Cendana News tengah berjualan buah durian di tepi Jalinsum, Sabtu (4/1/2020).
Pemilik kebun menurutnya akan mendapat keuntungan dari hasil panen. Para penunggu durian jatuh akan mendapat upah, sementara Sumino sebagai penjual durian bisa mendapat keuntungan dari berjualan durian.
Ia mengaku tidak sanggup membeli durian dengan sistem lelang yang rata-rata mencapai Rp5 juta hingga Rp6 juta per pohon.
Berbekal modal sekitar Rp1 juta Sumino mengaku bisa membeli ratusan buah durian jatuhan. Membeli durian rata-rata seharga Rp30.000 ia bisa menjualnya dengan harga Rp40.000 atau lebih sesuai dengan ukuran buah.
Jenis buah durian jatuhan bahkan bisa dijual lebih mahal dengan kualitas rasa yang terjamin. Proses merasakan daging buah durian menurutnya bisa dilakukan dengan membuat lubang kecil pada kulit buah.
“Durian jatuhan yang saya jual dijamin manis tetapi untuk mencicipinya tidak boleh dibelah karena jumlah terbatas beda dengan durian peraman,” beber Sumino.
Alih profesi sebagai penjual durian musiman, Sumino mengaku mendapat untung rata-rata Rp10.000 hingga Rp15.000 per buah. Selain dijual dengan sistem per biji ia menjual dengan sistem gandengan.
Harga durian menyesuaikan ukuran buah dan jenis durian yang didominasi durian keong, ketan dan durian khas Lampung Selatan lain. Meski mendapat untung kecil ia menyebut berjualan durian lebih menjanjikan dibandingkan mengojek.
Pedagang durian lain bernama Sobri di Desa Gayam menyebut memilih meninggalkan sementara profesi sebagai tukang ojek. Menjual durian hasil kebun serta hasil durian jatuhan dari warga pemilik kebun memberinya keuntungan.

Sebab saat berjualan durian bertepatan dengan musim liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2019/2020. Sejumlah pembeli umumnya pengendara yang akan menyeberang ke pulau Jawa.
“Meski ada jalan tol bagi yang akan membeli durian umumnya memilih melintas ke Jalinsum,” beber Sobri.
Mendapat keuntungan rata-rata ratusan ribu saat musim durian, Sobri mengaku bisnis musiman itu jadi pilihan. Sebagian buah durian yang memiliki ukuran kecil kerap diminati konsumen untuk membuat sambal tempoyak.
Sebagian buah durian digunakan sebagai bahan pembuatan sup durian. Buah durian jatuhan kerap jadi buruan konsumen meski harga lebih mahal dari durian peraman.
Fitoni, pembeli buah durian mengaku membeli dengan cara memesan. Ia sengaja membeli buah durian jatuhan sebagai oleh oleh untuk keluarga yang ada di Jakarta. Sebab liburan yang mulai berakhir membuat anggota keluarganya harus kembali ke Jakarta.
Durian dan buah rambutan menjadi oleh-oleh khas yang akan dibawa saat kembali ke Jakarta. Sebagian dibeli dari Sobri pengojek yang menjadi penjual durian sementara.