Kerang di Pantai Agro Jadi Sumber Penghasilan Warga Ketapang
Editor: Makmun Hidayat
LAMPUNG — Potensi perairan Pantai Agro di Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) jadi sumber penghasilan warga. Rasadah, warga Dusun Suka Bandar di dekat pantai menyebut sumber penghasilan diperoleh warga dari proses mencari kerang. Jenis kerang yang diperoleh diantaranya kerang bulu, kerang putih, kerang hijau.
Proses pencarian kerang menurut Rasadah kerap dilakukan oleh warga saat kondisi perairan surut. Sebab dalam kondisi surut permukaan air laut mencapai sepinggang orang dewasa. Pada sejumlah titik kedalaman air bisa mencapai dada orang dewasa sehingga pencari kerang harus memakai alat khusus. Alat tersebut diantaranya cudik dari kayu dengan kawat yang diberi jaring dan kotak styrofoam yang bisa mengapung.

Pekerjaan mencari kerang menurut Rasadah dilakukan oleh sang suami. Ia kerap harus berbagi tugas membersihkan kerang yang telah dibawa menepi. Pembersihan kerang dilakukan dengan proses menyikat kulit kerang yang sebagian berlumut. Ia juga melakukan proses penyortiran jenis kerang yang diperoleh agar bisa dijual dalam kondisi terpisah.
“Ada penampung yang akan membeli jenis kerang bulu,kerang hijau dan kerang darah yang diperoleh dari sejumlah pencari kerang sebagian langsung dijual langsung kepada pembeli,” ungkap Rasadah saat ditemui Cendana News tengah menyortir kerang yang akan dijual, Kamis (16/1/2020).
Rasadah menyebut musim angin timur tidak menghalangi warga untuk mencari kerang. Sebab lokasi mencari kerang terlindung oleh pulau Seruling,pulau Seram dan pulau Kopiah. Memasuki bulan Januari dengan dominasi musim penghujan berimbas sejumlah sungai banjir memberi dampak positif bagi pertumbuhan kerang. Sebab banjir membawa lumpur menjadi habitat alami bagi kerang.
Pencari kerang menurut Rasadah berasal dari sejumlah desa di wilayah Ketapang. Pada saat kerang melimpah di wilayah tersebut pencari kerang bisa mendapat 30 hingga 50 kilogram kerang berbagai jenis. Kerang yang diperoleh dari dasar lumpur dijual dengan harga Rp10.000 hingga Rp13.000 per kilogram. Sebelumnya per kilogram kerang hanya dijual Rp4.000. Namun karena berkurangnya pencari kerang harga berangsur membaik.
“Kenaikan harga menguntungkan pada awal tahun karena warga yang mencari kerang jumlahnya berkurang,” paparnya.
Arnasari, mengajak serta dua anaknya saat sang suami mencari kerang di pantai Agro. Pencarian kerang oleh sang suami kerap dilakukan sejak pagi hingga siang hari. Sekali proses pencarian kerang menurutnya bisa memberinya penghasilan rata rata Rp200.000 hingga Rp300.000. Sebab permintaan kerang dari pantai tersebut mencapai 5 kuintal. Kerang yang diperoleh dari sejumlah pengepul akan diambil oleh pemilik usaha kuliner boga bahari (seafood).

Jenis kerang putih berukuran besar menurut Arnasari kerap dijadikan sate dan olahan kuliner lain. Pengepul kerang umumnya memesan dalam kondisi masih bercangkang sebagian dalam kondisi sudah dikupas. Kerang yang sudah dikupas menurutnya dijual dengan harga mencari Rp40.000. Sebab kerang yang sudah dikupas akan digunakan untuk bahan pembuatan sate.
“Kami menyediakan kerang hasil pencarian suami dalam kondisi masih bercangkang,sebagian direbus untuk pengupasan,” papar Arnasari.
Hasil penjualan kerang disebutnya digunakan untuk kebutuhan sehari hari. Ia juga menyebut saat memasuki semester dua bagi anaknya yang duduk di bangku SMP ia membutuhkan biaya banyak. Biaya yang diperlukan menurutnya untuk kebutuhan transportasi dan peralatan sekolah. Sebab sebagai warga yang tidak memiliki lahan sawah, ladang pekerjaan di pantai sebagai pencari kerang menjadi pilihan.
Angga, warga Desa Legundi menyebut memanfaatkan waktu untuk mencari kerang sebagai sumber penghasilan. Pekerjaan itu menurutnya tidak membutuhkan modal banyak. Berbekal ketahanan berendam di air ia bisa mendapatkan kerang minimal 30 kilogram per hari.
Kerang tersebut akan dijual langsung ke konsumen dan sebagian ke pengepul. Permintaan kerang yang tinggi menjadi peluang baginya dan sejumlah warga untuk mendapatkan hasil.