Baznas: Berzakat Masih Cukup Terabaikan
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Kepala Divisi Penghimpunan Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) Baznas, Faisal Qosin, mengatakan, generasi yang diabadikan oleh Allah SWT adalah kaum (suku) Quraisy. Bukti Allah SWT, mengabadikan kaum Quraisy terdapat dalam surah ke-106 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 4 ayat dan tergolong surah Makkiyah. Kata ‘Quraisy’ merujuk pada kaum (suku) Quraisy, yang mendapat kepercayaan menjaga Kabah.
“Kaum Quraisy ini kalau dilihat dari sejarahnya, yakni suku yang selalu bersyukur kepada Allah SWT, mereka tidak pernah jauh dan lepas dari iman kepada Allah SWT. Dan, satu-satunya suku yang menjaga rumah Allah SWT, ketika Raja Abraham akan menghancurkan Makkah, hanya kaum Quraisy yang berjuang,” kata Faisal pada Bincang Zakat di aula Baznas, di Jakarta, Rabu (29/1/2020) sore.
Ia menyambung, Allah SWT bersabda, jika ingin sukses contohnya kaum Quraisy, yang tidak pernah lalai selalu tergerak, baik itu di musim panas maupun dingin.
Sikap kaum Quraisy ini pun diabadikan oleh Allah SWT, karena dalam sejarahnya kaum Quraisy ini selalu berpikir menolong kepada saudara.
Orang berdagang itu tujuan mendapatkan untung atau laba. Tapi, suku Quraisy ketika dia bertolak dari Makkah menuju Yaman pada musim dingin maupun panas, niatnya satu, kalau pulang dari berdagang hasilnya itu akan dibagi rata dengan orang dhuafa.
“Jadi bukan pada orang yang punya modal saja, keuntungan itu juga dibagi rata kepada orang dhuafa,” ujar Faisal.
Sebagai umat muslim, menurutnya, kita mempunyai tugas memegang amanah untuk menegakkan syariat dakwah. Kita hadir di acara ini dikumpulkan oleh Allah SWT. Semata karena Allah SWT ingin kita semua makmur di usia hidup kita ini.
“Kita tidak tahu umur kita kapan menghadap Allah SWT. Tapi, rasanya Allah SWT ingin usia kita dimakmurkan,” ujarnya.
Maka, kata dia, kenapa di masjid ada Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), karena memang isinya itu hanya melulu ibadah salat. “Allah SWT ingin usia kita itu dimakmurkan bukan karena salat saja, tapi juga karena kebaik-baikan,” imbuhnya.
Menurutnya, Rukun Islam yang masih cukup terabaikan umat muslim, khususnya di Indonesia adalah zakat. Menghitung zakat itu mudah, sudah ada kalkurator zakat, tapi yang susah itu membayarnya.
“Zakat ini berkaitan dengan harta. Dan, hidup kita ini harus dimakmurkan dengan zakat. Tapi, urusan manusia dengan harta itu luar biasa. Setan tidak mau kita sukses lahir batin,” tukasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, tujuan akhir hidup kita pada Allah SWT adalah sejauhmana kita ini taat atas penegakan dakwah syariah atau zakat. Karena hal ini berkaitan dengan ekonomi, pengumpulan, penyaluran, kemanusiaan, pendidikan, dan kesehatan.
Semuanya itu sama, dalam rangka menegakkan zakat, meskipun perannya berbeda. Tentu dalam berdakwah zakat, kita perlu mengabdi kepada Allah SWT. Dengan begitu dia mensyukuri hidupnya.
“Karena kita tidak pernah tahu amal kita yang mana yang nanti akan jadi tiket menghadap Allah SWT,” tukasnya.
Dia menjelaskan, relawan yang setiap tahun menjadi bagian dari menggelorakan zakat dan menegakkan dakwah zakat, adalah orang yang dipilih oleh Allah SWT, bukan orang sembarangan.
Dalam menegakkan dakwah zakat di negara mana pun, tujuannya sama untuk menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan menyejahterakan masyarakat mustahik.
Karena negara yang sejahtera itu yang mendapat keberkahan dan jaminan keamanan. Dan, salah satu jembatan untuk menegakkan syariat dakwah adalah semuanya harus berperan.
Dia menyebut, doa para Nabi juga berharap, Allah SWT senantiasa memberikan kesejahteran dan ekonomi stabil. Karena negara kalau dhuafanya banyak, kemudian mereka bisa sejahtera, maka kriminalitas berkurang.
Adanya kriminalitas itu karena kemiskinan yang tidak pernah tertolong atau tidak ada jalan keluarnya. “Kalau ekonomi carut marut, tidak sejahtera dan tidak aman. Semua beringas, itu berarti negara ini sudah dicabut keberkahannya oleh Allah SWT,” pungkasnya.