Usai COP25, BMKG Fokuskan Observasi Iklim

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto saat ditemui di Gedung B BMKG Jakarta, Rabu (18/12/2019). Foto: Ranny Supusepa

JAKARTA — Berakhirnya pertemuan tahunan PBB di bidang Perubahan iklim menyisakan beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh masing-masing negara, termasuk Indonesia.

Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Siswanto menyampaikan, selama pertemuan COP 25 yang berlangsung di Madrid, hanya empat negara yang berhasil dalam memenuhi NDC (Nationally Determined Contribution).

“Indonesia sendiri hanya mencapai peringkat highly insufficient atau negara yang kurang memenuhi target. Jauh lebih baik dari negara yang gagal memenuhi, seperti Amerika Serikat dan Saudi Arabia,” kata Siswanto saat ditemui sepulang dari Madrid di Kantor BMKG Jakarta, Rabu (18/12/2019).

Siswanto menjelaskan, dalam pertemuan ini, dibahas materi lanjutan dari COP24 yang berlangsung di Katowice Polandia.

“Pertemuan ini ditujukan untuk memberikan input dan informasi mengenai status iklim dunia. Highlight utamanya adalah laporan WMO (World Meteorigical Organization) yang bersifat sains dan laporam IPCC (Intergovernmetal Panel on Climate Change),” ucap Siswanto.

Beberapa yang perlu dicermati dari laporan WMO adalah konsentrasi gas rumah kaca mencapai rekor tertinggi pada tahun 2018 yaitu CO2 407.8 ppm, CH4 1869 ppb dan N2O 331.1 ppb.

“Disampaikan juga bahwa suhu bumi saat ini 1,1 derajat Celcius diatas periode pre industrial, 1850-1990, dengan data hingga akir Oktober 2019 akan menjadi tahun terpanas ke-2 atau ke-3 dalam sepanjang sejarah pengukuran,” papar Siswanto.

Data yang tercatat sejak 1980, menurut Siswanto menunjukkan peningkatan suhu bumi terjadi secara terus menerus. Sehingga dibutuhkan suatu observasi yang berkelanjutan untuk mendukung upaya adaptasi dan mitigasi.

“Dalam pertemuan ini, ada beberapa negara yang secara konsisten mengecilkan laporan ilmiah WMO dan IPCC, dengan menyatakan bahwa masih terdapat gap dalam climate science, yang berarti kekurangan atau ketidaksempurnaan dan climate modelling mengandung ketidakpastian, dengan menonjolkan aspek tersebut dibandingkan pemahaman dan progres yang diberikan oleh kemajuan climate science,” urainya lebih lanjut.

Indonesia, melalui BMKG yang berkewenangan dalam hal observasi iklim, mengusulkan jalan tengah dengan membalikkan bunyi negatif ‘reducing uncertainty’ dengan kalimat positif ‘improving uncertainty estimate’.

“Indonesia juga berkontribusi mendukung proses analisis atribusi loss dan damage dari hidrometeorologi ekstrim, dengan menampilkan poster systematic cataloging hazardous dan extreme events, pada poster session Earth Information Day,” ujar Siswanto.

Dari pertemuan COP25, Siswanto menyatakan, jelas Indonesia perlu terus mendukung apresiasi dan recognition scientific finding karena dapat menjadi dasar penting untuk monitoring status iklim untuk mendukung implementasi Paris Agreement.

“Pada level nasional, ini akan menjadi dasar kebijakan ramah lingkungan dan mampu beradaptasi pada perubahan iklim sekaligus mendukung mitigasi perubahan iklim. dan akan menjadi potensi kerjasama dengan negara lain dalam rangka penguatan kapasitas pengamatan dan pemanfaatan sumber daya pengamatan iklim dan kualitas udara,” pungkasnya.

Lihat juga...