Mengenali Puting Beliung Agar Tidak Terjadi Korban Jiwa
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
JAKARTA — Beruntunnya kejadian puting beliung di beberapa wilayah Indonesia mendorong Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika untuk melakukan sosialisasi dan edukasi. Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto, M.Sc mengatakan bahwa angin puting beliung ini merupakan tornado dengan skala F0 dan F1.

“Angin puting beliung ini adalah angin kencang yang memiliki kecepatan yang melebihi 63 km per jam. Dalam bahasa lain, kecepatannya itu antara 30-50 knots. Waktu terjadinya rata-rata singkat. Bisa hanya sekitar lima menit,” kata Siswanto saat ditemui di Gedung B BMKG Jakarta, Rabu (18/12/2019).
Ia menambahkan, biasanya setelah durasi waktu tesebut, kecepatan angin akan secara berlangsung melemah.
“Angin puting beliung ini tidak punya siklus dan sangat jarang terjadi pada daerah yang sama. Biasanya terjadi pada peralihan musim kemarau dan musim penghujan. Rata-rata terjadinya siang atau sore hari,” ujarnya.
Siswanto memaparkan bahwa proses terjadinya angin puting beliung ini berkaitan dengan arah gerakan awan Cumulusnimbus (CB). Dimana pada fase pertumbuhan awan terjadilah suatu arus udara yang naik ke atas secara kuat.
Saat hujan belum turun, titik air maupun kristal es yang tertahan oleh arus udara yang naik. Hingga pada masa fase dewasa, titik air yang tidak tertahankan lagi ini menimbulkan gaya gesek antara arus udara yang naik dan yang turun. Suhu massa udara yang turun ini lebih rendah dibanding sekelilingnya yang menimbulkan arus geser berbentuk pusaran.
“Saat pergerakannya semakin cepat maka terbentuklah suatu siklon yang biasa disebut puting beliung,” urainya.
Peristiwa ini hanya akan berlangsung singkat karena pada fase ini tidak ada massa udara yang naik dan akan turun meluas, yang menyebabkan kondensasi berhenti dan udara yang turun akan melemah.
Siswanto menyampaikan, puting beliung ini bisa diperkirakan dalam waktu 30 menit hingga sejam sebelum waktu terjadinya.
“Biasanya suhu udara akan terasa panas dan pengap sejak sehari sebelumnya. Kalau orang Jawa menyebutnya sumuk. Biasanya dirasakan pada malam atau pagi hari. Kalau melihat langit, akan ada awan yang berbatas tepi sangat jelas, berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol. Inilah yang kita sebut awan Cumulus,” ujarnya.
Awan ini, selanjutnya akan cepat berubah warna menjadi hitam gelap dan daerah disekitar pengamatan akan terasa menjadi dingin.
“Kalau dahan pohon atau ranting sudah bergoyang cepat itu tandanya akan ada hujan dan angin kencang yang akan datang. Juga kalau terdengar sambaran petir yang cukup keras,” ucapnya lagi.
Jika dalam musim penghujan tidak terjadi hujan selama tiga hari berturut-turut maka akan ada kemungkinan hujan deras yang turun pertama kali diikuti angin kencang, baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak.
“Puting beliung ini memiliki potensi merusak yang cukup besar. Biasanya atap rumah terangkat atau kalau rumahnya termasuk yang tidak kuat atau semi permanen, itu bisa terangkat juga. Pohon-pohon yang tinggi dan rimbun kalau batangnya rapuh, biasanya memiliki kecenderungan untuk tumbang. Karena hal inilah, seringkali ada korban jiwa . Walaupun tidak setiap kejadian, ada korban jiwa,” ungkap Siswanto.
Untuk menghindari korban jiwa, Siswanto mengimbau kepada masyarakat, agar saat terjadi, masyarakat harus langsung masuk ke rumah atau gedung yang kokoh.
“Tutup dan kuci jendela, pintu. Matikan semua aliran listrik dan peralatan elektronika, termasuk regulator tabung gas untuk mencegah kebakaran. menjauh dari sudut ruangan pintu, jendela dan dinding terluar bangunan. Tempat aman itu di tengah-tengah ruangan,” katanya.
Kalau sedang berkendara, Siswanto menyatakan agar sesegera mungkin keluar dari kendaraan dan mencari perlindungan yang terdekat.
“Atau jika memang tidak kekejar juga, jika terasa petir menyambar, segera membungkuk, duduk dan peluk lutut ke dada. Jangan tiarap di tanah. Hindari tiang listrik, papan reklame, jembatan dan jalan layang,” ujarnya lagi.
Korban jiwa biasanya berasal dari decera parah akibat hantaman benda-benda yang beterbangan. Sehingga saat menyelamatkan diri, selalu waspada terhadap benda-benda yang beterbangan.
“Jika sudah berakhir, segera cek sekitar, apakah ada yang perlu pertolongan medis. Jika ada kerusakan yang berhubungan dengan listrik atau gas, secepatnya hubungi pihak berwenang. Terus pantau perkembangan situasi terkini melalui informasi baik dari media massa maupun pejabat berwenang,” pungkasnya.