Tanaman Konservasi Bernilai Ekonomi Jadi Pilihan Warga Lampung

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Kesadaran masyarakat menanam berbagai jenis tanaman konservasi bernilai ekonomi tinggi terus meningkat. Yang kerap dicari merupakan jenis multi purpose tree species (MPTS). Tanaman berfungsi sebagai penahan erosi untuk rehabilitasi tanah sekaligus memiliki nilai ekonomis.

Ahmad Naim, penyedia bibit yang juga warga Desa Rawi Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) menyebutkan, bibit MPTS dimanfaatkan sebagai tanaman konservasi tren penanaman pohon untuk investasi.

“Sebelumnya, yang dipilih masyarakat merupakan tanaman kayu bahan bangunan. Kini sebagian mulai beralih menanam pohon kayu penghasil buah dan hasil hutan bukan kayu (HHBK),” ungkap Ahmad Naim saat ditemui Cendana News, Rabu (27/11/2019).

Bekerjasama dengan kelompok pengelola hutan (KPH) di beberapa kabupaten Ahmad Naim menyebut konservasi jadi tujuan utama. Didukung ayahnya,Komarudin, ia terus mengembangkan berbagai jenis bibit. Tercatat rata rata satu jenis tanaman bibit disediakan olehnya sebanyak 1.000 tanaman.

“Jenis bibit tanaman yang kami sediakan meliputi tanaman konservasi bernilai ekonomi dan bisa menjadi investasi bagi masyarakat petani yang ingin menjadikan tanaman pohon sebagai tabungan tanpa mengganggu tanaman pertanian lain,” tambahnya.

Sejak awal tahun ini jenis bibit yang disediakan meliputi sengon, bayur, jati ambon, pinang, keluwek, damar, gayam, cengkih, pinang, kemiri dan jenis pohon lainnya.

“Petani mulai kreatif menanam pohon yang hanya bisa diambil buahnya namun tetap menjadi tanaman konservasi,” papar Ahmad Naim.

Dipanen pada usia 3 tahun saat mulai berbuah, kemiri bisa dijual Rp6.000 per kilogram bahkan bisa lebih mahal. Selaijn kemiri, tanaman pinang sebagai pohon pagar banyak diminati masyarakat. Mampu menahan longsor dan meresap air, buahnya bisa dijual seharga Rp8.000 per kilogram.

Kuwadi, salah satu warga penanam kayu menyebut sengaja menjaga tanaman sebagai bahan bangunan. Jenis tanaman yang dipelihara meliputi sengon, mindi, kemiri dan medang. Kebutuhan akan kayu sebagai bahan bangunan, membuat perahu di wilayah Bakauheni membuat ia memilih menanam pohon pada lahan pekarangan.

“Lebih hemat menanam kayu daripada membeli bahan jadi, selain itu saya ikut berkontribusi menjaga lingkungan,” beber Kuwadi.

Tanaman konservasi di sekitar pekarangan menurutnya penting. Sebab keberadaan tanaman tersebut bisa menjaga resapan air. Keberadaan sumur gali yang mulai berkurang debitnya juga dipengaruhi banyaknya pohon yang ditebang.

Menjaga pohon tetap lestari membuat bisa mempertahankan sumber air. Sebagian pohon yang bisa ditebang sekaligus menjadi bahan bangunan dan pembuat perahu,” tutupnya.

Lihat juga...