Polres Sikka Berikan Bantuan Kursi Roda bagi Penyandang Disabilitas

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Setelah diberitakan media mengenai kondisi fisik Aleksius Moa Sei (19), warga dusun Kloanglagot, desa Wairkoja, kecamatan Kewapante, kabupaten Sikka, NTT yang membutuhkan bantuan kursi roda, Polres Sikka pun turun memberikan bantuan.

Hari Sabtu (2/11/2019) Kepolisian Resort (Polres) Sikka di bawah pimpinan Kapolsek Kewapante Iptu Margono, SE bersama staf turun ke lokasi penderita dan memberikan bantuan kursi roda.

“Kapolsek Kewapante bersama staf telah turun tadi memberikan bantuan kepada penderita. Ini merupakan kegiatan pemberian bantuan kemanusiaan Polisi Peduli Kaum Disabilitas,” kata Kapolres Sikka, AKBP Rickson PM Situmorang,SIK, Sabtu (2/11/2019).

Aparat polisi Polsek Kewapanta Polres Sikka, NTT sedang membawa kursi roda untuk diberikan kepada warga desa Wairkoja yang mengalami kelumpuhan, Sabtu (2/11/2019). Foto: Ebed de Rosary

Dikatakan Rickson, Kapolsek Kewapante Iptu Margono SE beserta anggota dan Bhabinkamtibmas desa Wairkoja, diwakili Brigpol Dami Dati S.Ip, melakukan anjangsana ke rumah korban.

“Dengan demikian sudah terkabul doa Aleksius yang meminta kursi roda untuknya. Semoga bantuan Kapolsek Kewapante dan staf bisa meringankan beban derita keluarga Ade Aleksius,” ungkapnya.

Sementara itu, Lusia Lidi, ibunda Aleksius, mengatakan, setiap hari dirinya selalu disamping anaknya untuk membantunya seperti mengurus bayi kembali.

Setiap kali makan harus disuap, mandi dan kalau mau buang air Lusi menggendong anaknya ke toilet termasuk kalau harus berobat ke puskesmas atau Polindes.

“Suami saya sudah meninggal dan saya hanya ibu rumah tangga. Saya hanya mendapatkan bantuan dari keluarga dan tetangga sebab tidak bisa meninggalkan anak saya sendirian kalau harus bekerja,” tuturnya.

Selama menetap di rumah kata Lusia, hanya ada mertuanya saja dan tidak ada laki–laki dewasa yang bisa diharapkan untuk membantu mereka merawat anaknya.

Adik dari Aleksius yang kedua kata dia, masih duduk di bangku SMP tetapi terpaksa berhenti sekolah karena tidak ada biaya melanjutkan pendidikannya hingga tamat atau ke jenjang yang lebih tinggi.

“Sebenarnya saya mau tenun kain atau buka usaha lain tetapi saya tidak memiliki modal untuk memulai usaha. Saya hanya garap kebun saja agar hasilnya bisa untuk dimakan bersama seluruh anggota keluarga,” ujarnya.

Lusia mengetahui kalau anaknya sedang berdoa apabila dia melipat kedua tangganya di depan dada lalu menepuk dahinya. Kalau adik-adiknya mengganggu di saat dia berdoa maka dia akan marah.

Dirinya pun berharap agar ada pihak yang mau membantu dirinya dengan mengucurkan bantuan untuk modal usahanya menenun atau yang lainnya di rumah.

“Anak saya menderita lumpuh sejak berusia 7 bulan. Dia anak sulung dari 4 bersaudara. Bapaknya, Blasius Petrus Pitang sudah meninggal dunia,” ungkapnya.

Lihat juga...