Pelas Udang, Menu Sarapan Tradisional Penggugah Selera
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Variasi makanan tradisional berbahan udang kerap disajikan dengan berbagai cara pengolahan. Pelas udang varian makanan tradisional dengan cara dikukus berbahan rempah sekaligus menyehatkan.
Sukesi, pedagang makanan tradisional menyebut pelas udang menjadi salah satu makanan yang dijual bersama kue lain.

Wanita asal Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut pelas udang dibuat dengan mudahnya memperoleh bahan baku. Udang yang kerap digunakan merupakan jenis udang sungai asal Way Sekampung dan Way Pisang.
Udang dicari oleh sang suami dengan cara menggunakan jaring dan bubu sebagian dibeli dari nelayan pencari udang.
Pelas oleh masyarakat kerap disebut dengan bothok dengan bahan variasi memakai udang. Bahan yang diperlukan dalam pembuatan pelas diantaranya udang, kelapa parut, jeruk nipis, telur bebek.
Bumbu pelengkap meliputi bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, sereh, cabai merah, cabai rawit, garam dan penyedap rasa. Sebagai pembungkus daun pisang kepok kerap digunakan dengan penyemat lidi kelapa.
“Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan pelas sangat mudah diperoleh dengan bumbu rempah yang sangat tepat bisa menjadi alternatif dalam memperoleh asupan gizi saat musim pancaroba,” ungkap Sukesi saat ditemui Cendana News, Sabtu (30/11/2019).
Proses pembuatan pelas menurutnya sangat sederhana dimulai dengan penyiapan udang sebagai bahan utama. Pada pembuatan pelas ia dibantu oleh Santi sang adik dalam pengolahan.
Udang yang digunakan selain dari sungai kerap menggunakan udang vaname yang diperoleh dari tambak. Udang yang akan dijadikan pelas dikupas bagian kulit dan dibuang bagian kepala. Udang direndam jeruk nipis selama 10 menit untuk menghilangkan rasa amis.
Setelah bahan dasar udang disiapkan, Sukesi menyebut sejumlah bumbu yang disiapkan dihaluskan dengan cara diulek. Namun dengan adanya alat penghalus atau blender, bahan bumbu berupa bawang putih ,kunyit jahe, sereh, cabai merah, daun salam, cabai rawit dan garam, bisa lebih mudah dihaluskan.
Semua bahan bumbu selanjutnya dicampurkan dengan parutan kelapa dan telur bebek yang sudah dikocok.
“Telur bebek dipilih karena memiliki rasa yang lebih gurih dan mudah menggumpal saat direbus namun bisa digunakan telur ayam,” papar Sukesi.
Semua bahan yang sudah dicampurkan selanjutnya dibungkus menggunakan daun pisang kepok. Udang akan dimasukkan saat proses pembungkusan dengan jumlah 4 hingga 5 udang sesuai ukuran.
Selama membuat pelas untuk dijual rata-rata dalam satu kemasan diberi udang sebanyak 5 ekor. Proses pengukusan pelas dilakukan dalam waktu sekitar 30 menit ditandai daun yang sudah layu dan pelas matang.
Setiap hari Sukesi mengaku membuat sekitar 150 bungkus pelas. Ia menjual sebanyak 3 bungkus pelas seharga Rp5.000. Permintaan pelas disebutnya banyak diminati oleh sejumlah ibu rumah tangga untuk menu sarapan.
Sebab selain bisa digunakan sebagai lauk, pelas juga menjadi camilan nikmat untuk teman minum teh. Saat berkeliling ia menjajakan pelas bersama pisang goreng, bakwan, bubur ayam dan jamu beras kencur.
Eka, salah satu ibu rumah tangga memilih pelas untuk menu sarapan sang suami. Dinikmati dengan nasi hangat pelas udang sangat tepat disantap sebelum melakukan aktivitas rutin harian.

Ia memilih pelas udang untuk sarapan karena bumbu rempah yang menghangatkan menjadi pilihan makanan mengenyangkan dan sehat. Diolah dengan proses pengukusan membuat pelas minim akan minyak sehingga menjadi makanan sehat.
“Pelas udang memiliki rasa gurih dan sangat tepat digunakan sebagai menu sarapan pagi hari,” tutur Eka.
Eka juga menyebut selain membeli dari pedagang keliling, ia kerap membuat pelas di rumahnya. Saat sang suami mencari udang di sungai, pelas jadi pilihan cara mengolah udang sungai.
Sebab sebagian udang sungai berukuran kecil akan mudah dinikmati dengan pembuatan pelas. Pencampuran dengan bermacam bumbu sekaligus membuat pelas udang lebih menggugah selera.