Menristek: Perusahaan Harus Inovatif untuk Dapat Bersaing

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

BADUNG — Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro meminta perusahaan agar mengedepankan penelitian dan pengembangan untuk menciptakan inovasi baru menghadapi era Revolusi Industri 4.0.

Dikatakan, perusahaan harus berinvestasi di research and development. Menurutnya, dewasa ini R and D bagi sektor swasta khususnya di negara Indonesia bukan lagi sesuatu yang mewah, melainkan sudah menjadi kebutuhan.

“Jadi sudah saatnya perusahaan dalam menghasilkan produk harus se-inovatif mungkin agar bisa kompetitif di lapangan,” ujarnya kepada para pelaku bisnis di acara Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) yang digelar di Nusa Dua Bali, Sabtu (23/11/2019).

Bambang menambahkan, penelitian dan pengembangan yang berujung kepada inovasi diperlukan untuk menciptakan produk baru, agar tidak hanya membeli lisensi teknologi dari luar.

“Jadi saya ingin mendorong perusahaan di Indonesia untuk tidak bergantung hanya kepada membeli lisensi dari pihak lain apalagi menggantungkan kepada teknologi impor,” jelas mantan kepala BPN ini.

Dia juga menyatakan, pengembangan teknologi bukanlah hal yang mudah, tapi hal itu harus dilakukan jika Indonesia ingin menjadi pemenang.

Dirinya juga meminta para perusahaan tersebut untuk berinvestasi kepada manusia.

Salah satu hal yang bisa dilakukan oleh korporasi untuk mengembangkan manusia adalah dengan bekerja bersama orang lokal yang berada di lingkungan sekitar perusahaan.

“Tidak cukup hanya menyediakan lapangan pekerjaan karena itu memang diperlukan oleh perusahaan, tapi juga mengembangkan manusia yang juga salah satu hal yang dibutuhkan masyarakat. Beri mereka kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri mereka,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, HASRAT 2019 ini sendiri merupakan sebuah kegiatan penganugerahan penghargaan kepada lembaga yang telah berhasil mengkomunikasikan kinerja keberlanjutan kepada pemangku kepentingan melalui laporan berkelanjutan dengan baik.

Kegiatan ini sebelumnya diberi nama Sustainability Reporting Awards (SRA) yang telah digelar sejak 2005.

Untuk tahun ini, kegiatan ASRRAT ini diikuti setidaknya sebanyak 50 lembaga dari 5 negara.

Kelima Negara tersebut adalah Malaysia, Singapura, Filipina, Bangladesh dan Indonesia.

NCSR selaku penyelenggara menempatkan 50 asesor spesialis laporan keberlanjutan untuk memberikan penilaian kepada seluruh partisipan. Hasil penilaian bergantung pada sebuah metodologi yang mengukur seberapa besar sebuah laporan menerapkan Global Reporting Initiative (GRI) Standard Guidelines dalam laporannya.

“GRI sendiri merupakan organisasi yang menyediakan kerangka kerja untuk pelaporan keberlanjutan yang dapat diadopsi oleh semua jenis organisasi di semua negara,” tandas ketua NCSR DR Ali Darwin.

Lihat juga...