Kesenian Ebeg Ramaikan Sosialisasi Pencegahan Kematian Ibu
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
PURWOKERTO – Upaya pencegahan dan penekanan Angka Kematian Ibu (AKI) serta angka kematian anak baru lahir di Kabupaten Banyumas dilakukan dengan memanfaatkan kesenian tradisional Ebeg. Cara ini dinilai efektif untuk mengumpulkan massa, kemudian menggelar sosialisasi di tengah acara.
Tim Perencanaan Terpadu Kesehatan Ibu dan Anak (PTKIA) dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Ayun Sriatmi, mengaku, sangat mengapresiasi inovasi yang dilakukan beberapa desa dalam melakukan sosialisasi pencegahan AKI.

“Inovasi yang dilakukan pihak desa dalam upaya pencegahan AKI dan angka kematian anak baru lahir patut diacungi jempol. Cara tersebut sangat efektif karena bisa mengumpulkan massa dalam jumlah besar dan acara sosialisasi juga berlangsung dialogis, terlihat sekali masyarakat yang hadir sangat antusias,” kata Ayun, dalam pemaparan diseminasi hasil perencanaan terpadu program kesehatan ibu dan anak di Kabupaten Banyumas, Sabtu (23/11/2019).
Ayun mencontohkan, pada sosialiasi di Desa Karangtengah, Kecamatan Baturaden, beberapa waktu lalu, ratusan orang memadati Balai Desa Karangtengah. Sosialisasi diawali dengan pertunjukan Ebeg dan di tengah pertunjukan, masyarakat berduyun-duyun datang ke balai desa.
“Pertunjukan Ebeg ini merupakan sarana yang sangat efektif untuk mengumpulkan massa, sudah terbukti dan teruji,” tuturnya.
Sementara itu, dalam paparannya, Ayun Sriatmi mengatakan, bahwa Standar Pelayanan Minimal (SPM) dengan 12 indikator menjadi target yang ditetapkan oleh bupati Banyumas.
Apabila target tidak tercapai maka akan berpengaruh terhadap penilaian kinerja bupati. Sehingga terwujudnya SPM ini menjadi tugas seluruhnya, hingga ke tingkat kecamatan dan desa.

“Saat ini tahapan yang kami lakukan di Kabupaten Banyumas sudah sampai pada tahap diseminasi hasil,” jelasnya.
Ada lima desa dan kelurahan yang dijadikan pilot project PTKIA yaitu Desa Karangtengah Kecamatan Baturraden, Desa Batuanten Kecamatan Cilongok, Desa Gandatapa Kecamatan Sumbang, Desa Sudagaran Kecamatan Banyumas dan Kelurahan Teluk Kecamatan Purwokerto Selatan.
Menurut Ayun, semua desa dan kelurahan tersebut melakukan sosialisasi dengan maksimal. Hal tersebut juga didukung oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan organisasi kesehatan yang ada di Kabupaten Banyumas dengan melakukan berbagai inovasi untuk sosialisi pencegahan AKI.
Pada kesempatan tersebut, Kasi Kesra dan Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyumas, Henny Soetikno, menyampaikan bahwa Banyumas sejak tahun 2015 telah mengalokasikan anggaran khusus untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak di Banyumas. Sehingga AKI di Banyumas mengalami penurunan yang cukup signifikan.