Dinkes Sumbar Terus Berupaya Tingkatkan Gizi Masyarakat

PADANG – Menjelang akhir tahun ini, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Barat terus berupaya menurunkan angka stunting di daerahnya, dengan melakukan peningkatan gizi bagi masyarakat, terutama pada anak usia dini. Melihat data 2018, ada tiga kabupaten di Sumatra Barat yang termasuk cukup tinggi angka kasus stunting, yakni Pasaman, Pasaman Barat, dan Solok.

Kepala Dinas Kesehatan Sumatra Barat, Merry Yuliesday, mengatakan, penyebab terjadinya kasus stunting tersebut bermula dari dalam kandungan. Ada kemungkinan, para ibu hamil ini tidak begitu mengutamakan asupan gizi untuk anak yang berada pada 1.000 hari pertama kehidupan.

“Terkait hal ini, Dinas Kesehatan perlu meningkatkan sosialisasi, agar tahun ini data kasus stunting tidak seburuk pada  2018,” katanya, Jumat (29/11/2019).

Ia menyebutkan, anak yang mengalami stunting bisa dicirikan dengan tinggi badan lebih pendek dari anak seusianya. Juga kecerdasannya terhambat. Ketika beranjak dewasa, si anak rentan terhadap penyakit, kegemukan, dan kurang berprestasi di sekolah.

“Untuk penurunan angka stunting di daerah ini, kita di provinsi terus melakukan upaya peningkatan gizi bagi anak-anak sejak usia dini,” katanya.

Menurutnya, upaya peningkatan gizi bisa dilakukan dengan cara spesifik dan sensitif. Secara spesifik dengan mengatasi penyebab terjadi stunting, dengan memberikan asupan makanan, infeksi, status gizi ibu, penyakit menular, dan kesehatan lingkungan.

Untuk itu, kegiatan intervensi spesifik tersebut umumnya diberikan oleh sektor kesehatan. Sedangkan, peningkatan gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung, umumnya dilaksanakan di luar sektor kesehatan.

“Sasaran gizi sensitif adalah keluarga dan masyarakat yang dilakukan melalui berbagai program, seperti peningkatan penyediaan air bersih dan sarana sanitasi, peningkatan akses kualitas pelayanan gizi dan kesehatan, peningkatan kesadaran, komitmen dan praktik pengasuhan gizi ibu dan anak serta peningkatan akses pangan bergizi,” tambahnya.

Lebih lanjut, Merry mengatakan jika permasalahan stunting ini tidak ditangani dengan peningkatan gizi yang optimal, maka akan berdampak kepada kualitas sumber daya manusia dengan tingginya prevalensi anak balita pendek.

“Karena proses terjadinya stunting merupakan manifestasi kegagalan pertumbuhan yang dimulai dari dalam kandungan, hingga anak berusia dua tahun. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal anak lahir, tetapi stunting baru nampak setelah anak berusia dua tahun,” terangnya.

Menurutnya, ada dampak yang bakal dialami oleh anak yang mengamali stunting, seperti terlihat pendek, stunting akan menyebabkan gagal tumbuh, hambatan perkembangan kognitif dan motorik, dan tidak optimalnya ukuran fisik tubuh serta gangguan metabolisme.

Sedangkan untuk jangka panjang, stunting menyebabkan menurunnya kapasitas intelektual. Gangguan struktur fungsi saraf dan sel-sel otak yang bersifat permanen serta menyebabkan penurunan kemampuan menyerap pelajaran di usia sekolah yang berpengaruh pada produktivitasnya saat dewasa.

Komitmen Dinas Kesehatan Sumatra Barat, juga telah dituangkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sumatra Barat Tahun 2016 – 2021, yang menyatakan pembangunan kesehatan merupakan hal yang utama.

“Kita ingin untuk menyasar kesehatan kepada masyarakat di seluruh daerah. Agar dapat terlayani secara merata, sehingga berdampak kepada peningkatan kualitas derajat kesehatan masyarakat serta sumber daya manusia yang berkualitas,” tegasnya.

Lihat juga...