Suhu Udara Tinggi, Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Akhir-akhir ini, Indonesia mengalami suhu udara yang panas cukup tinggi. Suhu udara di sejumlah daerah dilaporkan mencapai 35 hingga 37 derajat celsius.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti, mengatakan, jika tidak ada keperluan, hindari berada di luar ruangan pada pukul 10.00 hingga 16.00 WIB. “Hindari berada di luar ruangan. Gunakan masker dan paying saat keluar ruangan. Gunakan krim pelembab kulit, dan sunscreen saat di luar ruangan,” tutur Widyastuti, Jumat (25/10/2019).

Tips untuk menjaga kondisi tubuh, agar tetap bugar saat cuaca panas adalah, minum air putih dalam dua sampai tiga jam sekali. “Konsumsi air putih itu sedikitnya lima sampai enam liter per-hari atau satu gelas per-jam, jangan menunggu sampai haus,” jelasnya.

Saat berada di luar rungan, dianjurkan untuk sering menyemprotkan atau membasuh air ke muka atau bagian tubuh lain. Hindari meminum kopi, karena akan mempercepat dehidrasi, dan cukup istirahat dan tidur enam sampai delapam jam per-hari. Masyarakat juga disarankan memperbanyak konsumsi buah-bahan segar yang banyak mengandung air.

“Konsumsi buahan-buahan segar seperti, jeruk, apel, dan pir akan sangat bermanfaat. Bagi yang memang harus beraktivitas di luar ruangan, dianjurkan untuk menggunakan sunsreen. Terakhir, jaga kondisi tubuh dengan istirahat dan tidur yang cukup,” ungkapnya.

Poster Enam langkah menjaga suhu tubuh stabil saat panas terik oleh Dinkes DKI Jakarta, foto repro Lina Fitria

Cuaca panas dan terik, bisa berdampak tidak baik bagi tubuh. Bahkan dalam situasi tertentu bisa memicu heat stroke. Serangan heat stroke terdapat dua bentuk Exertional Heat Stroke (EHS) yang umumnya terjadi pada orang muda yang terlibat dalam aktivitas fisik berat untuk jangka waktu yang lama di dalam lingkungan panas. Kemudian, Non Exertional Heat Stroke (NEHS), yang lebih sering mempengaruhi orang tua. “Penderita sakit kronis, dan usia yang sangat muda,” ungkapnya.

Gejala heat stroke adalah, pusing, mual, dan muntah. Sedangkan, tanda heat stroke meliputi, peningakatan suhu tubuh lebih dari 40,5 derajat celsius. Berkurangnya kemampuan untuk menurunkan suhu tubuh (berhenti berkeringat dan kulit menjadi panas), penurunan tekanan darah, peningkatan denyut jantung, dan sesak nafas. Cuaca panas ekstrim yang melanda Jakarta dan sejumlah daerah diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Oktober. Kondisi tersebut berpotensi membuat warga terserang heat stroke.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, cuaca panas melanda kawasan DKI Jakarta dan sekitarnya hingga akhir Oktober 2019. Stasiun BMKG di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara mencatat, suhu udara maksimum berkisar antara 35 derajat celcius hingga 36,5 derajat celcius.

Pada September, matahari berada di sekitar wilayah khatulistiwa dan akan terus bergerak ke belahan Bumi selatan. Prosesnya akan terjadi  hingga Desember. Di Oktober ini, posisi semu matahari di sekitar wilayah Indonesia bagian Selatan, seperti Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara. Kondisi tersebutlah, yang menyebabkan radiasi matahari yang diterima daerah tersebut relatif lebih banyak. Sehingga suhu udara meningkat pada siang hari.

Lihat juga...