Literasi di Flotim Harus Jadi Gerakan Bersama

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LARANTUKA – Gerakan literasi yang selama 3 tahun terakhir ada di kabupaten Flores Timur (Flotim) merupakan langkah positif menghidupkan asa bagi bangkitnya semangat generasi muda akan literasi itu sendiri. Gerakan literasi yang bangkit dari mati suri tersebut salah satunya berkat peran serta Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) cabang Flotim yang gencar mengkampanyekan.

“Literasi yang dimaksud oleh Agupena Flotim, merupakan sebuah gerakan. Tidak bersifat statis dan personal, melainkan dinamis dan kolektif,” kata Pion Ratulolly, Wakil Ketua Agupena Flotim, Kamis (3/10/2019).

Pion Eatuloly, wakil ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) cabang kabupaten Flores Timur (Flotim), saat ditemui Cendana News, Kamis (3/10/2019) – Foto: Ebed de Rosary

Pion katakan, literasi dimaksud hendaklah menjadi gerakan bersama yang dilakukan oleh seluruh komponen masyarakat secara berjamaah agar mampu berdampak signifikan terhadap pembangunan daerah.

Sederhana saja, menurutnya, sudah banyak bukti bahwa orang-orang yang menggeluti bidang literasi secara serius mampu bersaing dengan orang lain, baik pada skala lokal, regional, bahkan nasional.

“Agupena sebagai organisasi nonprofit tidak memiliki kepentingan komersial terkait pada hal-hal literasi, apalagi menadahkan tangan dengan mengharapkan uluran tangan dari Pemda Flotim. Sekali lagi tidak,” tegasnya.

Adapun dukungan Pemda Flotim pada Agupena yang diajukan oleh Agupena, ujarnya, lebih kepada dukungan melancarkan kegiatan, tanpa membebani dan tidak ada kemutlakan.

Selain itu, Agupena juga bukan merupakan lembaga politik atau berafiliasi dengan kepentingan politik tertentu. Agupena bersifat independen dan tidak terlibat dalam kegiatan politik praktik apapun.

“Tidak pernah ada dalam catatan apa pun, Agupena menghadiri atau berpartisipasi dalam kegiatan politik pihak tertentu,” ujarnya.

Kepala dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) kabupaten Flores Timur, Bernadus Beda Keda, mengatakan, pihaknya hanya memberi semangat kepada para pengurus Agupena.

Bernadus tegaskan, tidak pernah memfasilitasi Agupena dengan dana tetapi tetap memberikan semangat. Saat awalnya membuat kegiatan dan dikatakan peserta yang hadir sedikit, pengurus mengeluh dan dirinya memberikan semangat.

“Saya katakan, biasanya saat kita memulai sesuatu itu memang sulit tapi kita tidak bisa putus asa dengan keadaan ini. Para pengurus Agupena pun terus bersemangat dan saya terus mendorong mereka,” tuturnya.

Gerakan literasi yang dibangun memantik guru lainnya agar bisa menularkan virus literasi kepada muridnya.

Lihat juga...