Solid Papua Minta Presiden Jangan Lakukan Pendekatan Keamanan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

KUPANG – Aksi massa dan demo besar-besaran yang terjadi di Papua, provinsi di wilayah timur Indonesia menggugah semua pihak. Berbagai pihak pun bersuara atas keadaan ini dan meminta agar pemerintah bertindak bijaksana dalam menyelesaikan permasalahan di Bumi Cendrawasih.

“Tiadanya keadilan dan perdamaian di Papua hingga kini menjadi sorotan nasional dan internasional,” kata Gabriel Goa, Koordinator Solidaritas Indonesia untuk Keadilan dan Perdamaian Papua (Solid Papua), Minggu (8/9/2019).

Kepada Cendana News, Gaby, sapaannya mengatakan, pihaknya terpanggil untuk menegakkan keadilan dan perdamaian di Bumi Cendrawasih. Untuk itu sebutnya, Solid Papua mendesak Presiden Jokowi untuk mengambil langlah tepat dalam menyelesailan permasalahan ini.

“Kami mendesak presiden Jokowi agar dalam penyelesaian permasalahan Papua tidak mengedepankan pendekatan keamanan atau security approach tetapi pendekatan peace building,” tegasnya.

Selain itu kata Gaby, perlu dilakukan pendekatan melalui pemberdayaan sumber daya manusia Papua serta pemberdayaan ekonomi masyarakat Papua.

“Solid Papua mendesak Presiden Jokowi untuk melakukan pendekatan kasih, pantang kekerasan terhadap masyarakat Papua,” ujarnya.

Pemerintah tandas Gaby, seolah menghargai harkat dan martabat orang Papua, tetapi dalam praktiknya selalu diskriminatif terhadap orang Papua.

Tipikal orang Papua dan Indonesia Timur sebutnya, tidak suka berbasa-basi tetapi terbuka dan blak-blakan.

“Kami mengajak lembaga agama dan masyarakat serta pers untuk mengawasi kinerja TNI dan Polri agar tidak mengulangi kembali pendekatan keamanan atau security approach,” ujarnya.

Pendekatan keamanan seperti di Timor Timur dulu sebutnya, pada akhirnya membuat Timor Timur memisahkan diri dari NKRI dan menjadi Negara Republik Demokratik Timor Leste.

Femmy Bapa, Plt. ketua DPD KNPI dan Majelis Pemuda Indonesia kabupaten Sikka, mengatakan, peristiwa yang ditengarai isu rasisme kepada mahasiswa Papua, yang kemudian memanas di sejumlah kota di Papua sungguh mengganggu  bangsa Indonesia.

“Ujaran yang bersifat rasis dan merendahkan orang lain, mestinya tidak boleh terjadi lagi. Apalagi peristiwa tersebut bertepatan dengan ulang tahun Republik Indonesia ke 74,” tegasnya.

Forum Pemuda Sikka Untuk Indonesia tegas Femy, mendesak aparat kepolisian untuk segera mengusut tuntas tindakan rasisme terhadap mahasiswa Papua sesuai dengan koridor hukum yang berlaku.

Lihat juga...