‘Ngarak Nganten Sunat’, Budaya Betawi yang Nyaris Sirna
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
BEKASI – Ketika memasuki usia antara sembilan atau sepuluh tahun, anak Betawi biasanya minta disunat. Sunat bagi orang Betawi adalah upacara memotong ujung kelamin anak lelaki dalam ukuran tertentu.
Dalam tradisi Betawi di Bekasi, Jawa Barat, sunat diartikan sebagai proses pembeda. Maksudnya, seorang anak lelaki yang sudah sunat berarti sudah memasuki masa akil balig. Sehingga dinilai mampu menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang melanggar ajaran agama dan adat kesopanan di masyarakat.

“Zaman dulu, seorang anak lelaki yang akan disunat, bapak dan ibunya lebih dulu memusyawarahkan pelaksanaan upacara sunat,” ujar Majayus Irone atau yang akrab disapa Aki Maja, budayawan Bekasi, Minggu (1/9/2019).
Dalam musyawarah, biasanya akan melibatkan sesepuh kampung yang nasihatnya bisa dijadikan bahan pertimbangan.
Tidak ketinggalan juga anak yang akan disunat atau sudah “ngebeka minta sunat” diajak rembukan. Rembukan dimaksud untuk bertanya kepada anak apakah ia mau atau sudah berani untuk disunat.
Hal tersebut perlu sekali ditanyakan, sebab jika si anak belum mau atau belum berani maka sunat tidak akan dilaksanakan karena dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Kepada anak ditanyakan pula apakah ingin diarak berkeliling kampung atau tidak. Kemudian ditanyakan lagi diarak dengan diusung tandu atau dengan menaiki kuda.
Bahkan sampai ke hiburan akan ditanyakan hiburan atau tanggapan dan apa hiburan yang dipilihnya. Anak bebas memilih jenis hiburan apa saja yang disukainya.
Baru kemudian orang tua mencari bengkong istilah dukun sunat, yang akan dipanggil untuk mengkhitan. Setiap bengkong punya kekhasan tersendiri. Ada istilah jodoh atau panas untuk tangan sang bengkong, karena dipercaya mempengaruhi pada luka sunat akan lama sembuh atau tidak.
Namun, seorang bengkong sebenarnya tidak ada yang tangannya panas, yang terjadi adalah cocok atau tidak cocok saja.
Biasanya bengkong yang sudah senior memiliki doa-doa mustajab, ia akan lebih diutamakan. Bengkong yang baik itu mempunyai ajian atau doa-doa mustajab yang dapat menghipnotis si anak agar tidak terasa takut. Juga tidak merasa sakit, dan tidak terlalu banyak mengeluarkan darah sesudah disunat.
Zaman sekarang bengkong sudah susah dicari. Padahal dulu jika ingin sunat, harinya pun ditentukan dalam pelaksanaan. Pada umumnya, orang Betawi melakukan khitan pada bulan Maulid atau Syawal setelah lebaran Idul Fitri.
Kalau hal tersebut sudah ditentukan, selambat-lambatnya sebelum 15 hari dilaksanakannya acara, anak biasanya dilarang berlompat-lompatan atau berlari-larian. Sebab, kalau aktivitas itu dilakukan, akan mempengaruhi saat disunat, banyak mengeluarkan darah.
Kemudian masuk penyiapan pakaian pengantin sunat. Sebelum hari pelaksanaan, biasanya anak dirias menggunakan pakaian kebesaran sunat, agar dijadikan pengantin sunat. Pagi-pagi si anak atau pengantin sunat mulai diarak keliling kampung.
Tujuannya Ngarak Nganten Sunat itu sendiri tak lain guna memberi hiburan atau kegembiraan kepada si anak bahwa dia akan dapat pengalaman baru, yaitu sunat. Lazim jika anak Betawi akan merasa malu jika sudah besar belum disunat.
Sebelum disunat, pengantin sunat biasanya diarak keliling kampung. Pengantin naik delman atau naik kuda. Di belakang delman atau kuda biasanya keluarga pengantin sunat dan teman-teman sepermainannya ikut mengarak.
Ada pun pendukung acara pada kegiatan prosesi ngarak pengantin sunat meliputi pakaian pengantin sunat lengkap, jubah atau jube, gamis, selempang, alpie, yaitu tutup kepala khas sorban haji, pembaca salawat dustur, grup rebana, kuda hias, delman hias, ondel-odel atau tanjidor.
Lalu diarak keliling kampung. Pelaksanaan sunat dibagi dua, yaitu hari pertama dan hari pelaksanaan sunat. Hari pertama bertujuan membujuk dan menghibur si pengantin sunat. Sesudah si pengantin sunat dirias dengan pakaian pengantin sunat, di depan pintu rumah dibacakan salawat dustur.
Sesudah itu diarak dengan rebana ketimpring dan salawat badar menuju kuda. Kuda ini dilengkapi ikatan padi dan kelapa. Sebelum rombongan pengantin sunat berangkat, serenceng petasan dibakar sebagai tanda bahwa rombongan siap berangkat.
“Budaya itu sekarang hampir punah, khususnya di keluarga masyarakat Betawi se-Jabodetabek. Bahkan semua kampung tidak ada lagi yang akan sunat dengan acara diarak,” ujar Aki Maja.
Jika pun ada, imbuhnya, itu dengan odong-odong atau sasingaan. Tapi itu bukan budaya Betawi melainkan budaya dari Subang.
Dia berharap, budaya nganten sunat ini bisa terus dijaga dan dilestarikan, memberi rasa gembira pada anak.