Disnakertrans Lamsel Gelar Pelatihan Sulam Usus
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), menggelar pelatihan sulam usus, guna mendorong tumbuhnya jiwa kewirausahaan yang inovatif, kreatif dan mandiri.
Sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Lamsel, Nurul Hidayah, menyebut, tahun ini pelatihan digelar di dua desa, yakni Desa Sukaraja di Kecamatan Rajabasa, dan Desa Pasuruan di Kecamatan Penengahan.
Pada pelatihan yang digelar di Desa Pasuruan, 10 ibu rumah tangga Kelompok Mawar dilibatkan. Pelatihan pembuatan sulam usus menjadi cara memajukan ekonomi Lamsel berbasis ekonomi kerakyatan.
Disnakertrans Pemkab Lamsel, menyiapkan sumber daya manusia (SDM) kompeten dalam pasar tenaga kerja berdaya saing. Sebab, peningkatan keterampilan warga masyarakat, pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Peserta pelatihan yang terdiri dari kaum ibu, diharapkan menjadi wirausaha yang keluar dari kemiskinan. Selain itu, dengan bekal ilmu sulam usus, akan menjadi cara menambah pendapatan.
Pelatihan sulam usus merupakan usulan dari sejumlah ibu rumah tangga (IRT) melalui kepala desa. Sebab, kendala sejumlah IRT ingin tetap mendapat penghasilan tanpa meninggalkan pekerjaan sehari-hari.
“Selama ini banyak pekerjaan yang bisa dilakukan oleh ibu rumah tangga untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dalam bidang ekonomi, sehingga pelatihan sulam usus digelar,” ungkap Nurul Hidayah, Senin (30/9/2019).
Dalam program ini, 10 orang dari sejumlah dusun tersebut mendapatkan mesin jahit dan paket pelatihan selama lima hari, yang digelar oleh Disnakertrans bekerja sama dengan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Lampung Selatan. Sebagai narasumber dan pelatih, diharapkan IWAPI bisa ikut memasarkan produk hasil karya para IRT tersebut.
Melalui pelatihan tersebut, pihak Desa Pasuruan melalui ketua tim penggerak PKK bisa membentuk kelompok usaha kecil berkelanjutan. Bantuan stimulan berupa pelatihan, mesin jahit dan paket pelatihan bisa digunakan untuk membuat produk sulam usus.
Bagi peserta pelatihan yang didominasi kaum IRT, diharapkan bisa membentuk usaha kecil yang produknya memiliki nilai jual.
Kepala Desa Pasuruan, Sumali, menyebut sejumlah ibu rumah tangga tersebut tergabung dalam Kelompok Mawar. Melalui pelatihan yang digelar oleh Disnakertrans Lamsel SDM, para IRT bisa ditingkatkan untuk bisa membuat produk bernilai jual.
Para IRT anggota kelompok yang dilatih Sumali diharapkan menjadi cikal bakal Usaha Kecil Menengah (UKM) berbasis masyarakat.
Setelah terbentuk UKM yang aktif sebagai kelompok usaha, pihak Desa Pasuruan akan memberi dukungan kelembagaan serta permodalan, dengan skema pinjaman lunak dari Badan Usaha Masyarakat Desa (Bumdes).
“Paling utama modal awal adalah keahlian yang telah didapat dari Disnakertrans, selanjutnya bisa menghasilkan produk yang bisa dijual,” ungkap Sumali.
Ketua Tim penggerak PKK Desa Pasuruan, Ernawati, menyebut pelatihan bagi IRT sangat penting. Sebab, sesuai dengan peluang dan potensi yang ada, para IRT bisa membantu perekonomian keluarga.
Kegiatan pembuatan sulam usus yang diajarkan oleh pelatih profesional bisa menjadi bekal bagi IRT membuat fashion. Sebab, sulam usus merupakan salah satu teknik melakukan penyulaman pakaian dengan ciri khas kearifan lokal Lamsel.
Teknik sulam usus bisa diterapkan dalam baju gamis dan kebaya wanita. Melalui penggunaan benang dan penerapan pola yang menarik, sulam usus dalam bentuk baju gamis dan kebaya memiliki harga jual tinggi.
Menurut Ernawati, gamis dan kebaya dengan motif sulam usus bisa dijual dengan harga Rp1,5 juta hingga Rp2 juta. Harga jual yang menjanjikan tersebut bisa meningkatkan ekonomi keluarga.
“Sulam usus yang dilatih bagi para IRT selanjutnya akan menjadi sumber pendapatan tanpa harus meninggalkan rumah,” tutur Ernawati.
Siti ,salah satu IRT anggota Kelompok Mawar peserta pelatihan mengaku sudah memiliki keahlian menjahit. Meski demikian, teknik membuat sulam usus baru pertama kali dilakukan olehnya.
Pelatihan dari Disnakertrans disebutnya bisa menjadi bekal bagi IRT untuk memiliki kesibukan harian yang menghasilkan. Kegiatan sulam usus, sekaligus ikut melestarikan kain tradisional khas Lamsel.
Dukungan dari Disnakertrans Lamsel, menurutnya menjadi modal dasar sangat penting. Sebab, salah satu kendala yang dihadapi oleh IRT dalam usaha rumahan berupa permodalan.
Peralatan berupa mesin jahit, paket peralatan pelatihan bisa menjadi stimulan bagi IRT untuk menekuni usaha sulam usus. Selain itu, teknik sulam usus bisa diterapkan untuk menghias sejumlah pakaian yang polos menjadi lebih indah dipakai, menghemat pembelian pakaian baru bagi keluarga.