Usir Hama Burung, Petani di Lamsel Manfaatkan Barang Bekas
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Cegah hama di areal persawahan Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel) petani memanfaatkan sejumlah bahan bekas, di antaranya plastik, kaleng, kertas. Langkah tersebut diambil untuk mengurangi kerugian akibat serangan burung pipit terhadap padi sejak mulai berbulir hingga menguning.
Ngatiyem, salah petani di Dusun Pegantungan, Desa Bakauheni menyebutkan, tanpa adanya upaya mengusir hama burung, setiap rumpun padi yang ditanam berpotensi mengalami penurunan produksi.
“Pada kondisi normal, tanaman padi varietas Ciherang yang tidak diserang hama menghasilkan Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 3,5 ton. Sebaliknya akibat hama burung pipit, walang sangit bisa menurun menjadi 2 ton,” ungkap Ngatiyem saat ditemui Cendana News, Kamis sore (8/8/2019).
Selama musim tanam padi, dalam sehari harus menunggu sejak pagi hingga petang. Cara tersebut diakuinya menjadi cara menjaga agar padi yang ditanam tidak berkurang akibat hama burung pipit.
Petani lain bernama Kenek di Bakauheni menyebut hama burung pipit mengakibatkan ia harus datang lebih pagi ke sawah. Akibat serangan hama, lahan sawah setengah hektare miliknya yang kerap menghasilkan sekitar 4 ton hanya memperoleh sekitar 3 ton.
“Berbagai alat pengusir burung diantaranya baju bekas untuk membuat orang orangan sawah dan kaleng berisi kerikil dipakai untuk mengusir hama burung,” sebutnya.
Kenek menyebut memilih menunggu burung di sawah meski sebagian petani lain tidak bisa menggarap sawah. Kegiatan menunggu hama burung pipit bahkan dilakukan hingga petang hari. Sebagai cara untuk mempercepat menunggu dan mengusir burung, ia bahkan membuat gubuk.
“Gubuk sengaja digunakan sang suami untuk menginap sehingga suami bisa menunggu di sawah saat pagi hari. Cara tersebut dilakukan agar bisa mengurangi serangan hama yang mengurangi produksi padi,” tutupnya.