Masyarakat di Lamsel Maknai Kurban Perkuat Nilai Sosial

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Panitia kurban di Masjid Mambaul Huda, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan (Lamsel), memaknai ibadah kurban sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan sikap penyerahan sebagai manusia.

Widodo, panitia kurban, menyampaikan pula, bahwa ibadah kurban memiliki nilai sosial. Dengan adanya kurban, umat Muslim yang kurang mampu mendapatkan bagian daging hewan kurban. Dengan berkurban, manusia juga memiliki keikhlasan mengorbankan harta dalam bentuk hewan kurban yang dipotong. Dan, daging yang sudah dipotong dan dibagikan kepada sesama, bertujuan melepas sifat tamak, cinta akan duniawi.

Makna kurban juga sebagai kenangan akan ketaatan Nabi Ibrahim AS yang mengurbankan Ismail. Sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah, nilai tersebut dipertahankan hingga sekarang. Melalui kurban, menjadi kesempatan bagi orang yang berkurban menghadiahkannya kepada para kerabat dan orang-orang fakir.

Widodo, panitia kurban hari raya Iduladha 1440 H di masjid Mambaul Huda Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan, saat ditemui, Minggu (11/8/2019) -Foto: Henk Widi

Sementara itu untuk memperlancar proses penyembelihan hewan kurban, Widodo mengatakan telah dibentuk panitia yang bertugas melakukan proses penyembelihan, pemotongan hingga pendistribusian daging kurban.

“Bagi umat yang akan berkurban sudah menyerahkan hewan kurban sepekan sebelumnya, selanjutnya setelah salat Iduladha di masjid, proses penyembelihan hewan kurban dilakukan,” ungkap Widodo, saat ditemui Cendana News, Minggu (11/8/2019).

Menurutnya, di Masjid Mambaul Huda Desa Bandar Agung, ada 2 ekor sapi dan 2 ekor kambing. Semua hewan kurban yang sudah dipotong oleh panitia akan dibagikan kepada masyarakat. Agar masyarakat memperoleh daging kurban, panitia sudah membagikan sekitar 350 kupon.

“Sesuai dengan makna berkurban untuk berbagi kepada masyarakat miskin, kupon dibagikan beberapa hari sebelumnya,” ungkap Widodo.

Nilai kebersamaan dan nilai sosial akan kurban juga dilakukan oleh muda-mudi Bunut. Sesuai dengan kemampuan, kurban dilakukan dengan cara patungan, oleh puluhan muda mudi remaja masjid Mambaul Huda, yang mengumpulkan uang selama satu tahun. Setelah terkumpul uang sekitar Rp2 juta lebih, selanjutnya uang dibelikan kambing.

“Patungan untuk membeli hewan kurban selanjutnya digabungkan dengan hewan kurban lain dan disembelih berbarengan,” ungkap Widodo.

Menurutnya, kurban sekaligus menjadi momentum kebersamaan. Saat panitia kurban yang didominasi oleh kaum laki-laki menyembelih hewan kurban, kaum wanita melakukan proses memasak. Kegiatan memasak disebut Widodo dilakukan untuk konsumsi panitia. Sebagai masyarakat yang didominasi oleh suku Bugis Wajo dan Bone, sebagian memasak makanan khas Bugis.

“Meski di Bandar Agung terdiri dari banyak suku, namun dengan adanya kebersamaan, Iduladha sekaligus menghidangkan kuliner khas Bugis,” ungkap Widodo.

Virdaus, salah satu warga suku Bugis, menyebut momen Iduladha sangat istimewa. Sebab, sang istri menyediakan menu buras yang merupakan lontong nasi. Saat hari raya Iduladha, sajian buras bisa dinikmati dengan gulai, opor daging dari hewan kurban.

Selain itu, hidangan langga dari ketan dipadu dengan kaloko pau menambah semarak Iduladha di wilayah tersebut.

Silaturahmi saat Iduladha juga masih dipertahankan oleh masyarakat. Sejumlah keluarga bahkan menghidangkan berbagai kuliner khas yang hadir hanya saat Iduladha. Berbagai hidangan olahan daging kerap menjadi sajian, di antaranya konro khas Makassar lengkap dengan buras. Selain itu, kue bolu pecca dengan gula merah juga dihidangkan.

Virdaus yang merupakan salah satu pimpinan cabang (PC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kecamatan Sragi, mengatakan, ribuan ekor hewan kurban disediakan. Berdasarkan informasi dari ketua DPD LDII Lampung Selatan, Drs. Sugiono, di wilayah Lampung, ia menyebut LDII menyediakan 1.022 ekor sapi dan 1.022 ekor kambing di 14 kabupaten kota di Lampung.

Sebanyak 2.044 ekor ternak sapi dan kambing dan daging kurban akan didistribusikan menjadi 92.460 kantong bagi warga di seluruh Lampung.

Lihat juga...