Aktivitas di Pesisir Lamsel Kembali Normal

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Aktivitas di pesisir Lampung Selatan, kini kembali normal usai gempa 7,4 SR beroptensi tsunami yang terjadi di Pandegalng, Banten, pada Jumat (2/8) malam.

Husin, nelayan di Dusun Minang Rua, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, mengaku sebelumnya sempat mencari lokasi aman saat gempa 7,4 SR berpotensi tsunami di perairan Pandeglang dirasakan juga di Lamsel pada pukul 19.03 WIB.

Hingga peringatan dini tsunami diakhiri oleh BMKG, Husin baru kembali ke lokasi usaha pembuatan ikan asin pada Sabtu (3/8) pagi. Trauma peristiwa tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018, membuatnya memilih mengungsi. Namun, pagi ini ia kembali melakukan rutinitas biasa dengan membuat ikan asin.

Sejumlah nelayan tangkap ikan dengan perahu ketinting, perahu bagan mini dan bagan apung juga kembali beraktivitas.

Husin menyebut, sebelumnya sudah mendapatkan mitigasi bencana terkait kejadian gempa bumi dan tsunami. Langkah yang dilakukan warga di sekitar bibir pantai Pesisir di antaranya dengan menjauhi lokasi pantai.

Husin, nelayan pesisir Bakauheni di Desa Kelawi, mulai berkativitas, Sabtu (3/8/2019), usai gempa di Pandeglang. -Foto: Henk Widi

“Saat ini kami selalu waspada jika terjadi gempa bumi di laut dan berpotensi tsunami, dengan mencari lokasi aman, selain itu kami tetap mencari informasi ter-update dan terverifikasi dari lembaga resmi seperti BMKG,” ungkap Husin, Sabtu (3/8/2019).

Sejumlah peristiwa gempa bumi, tsunami dan erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) juga selalu dipantau. Sejumlah jalur evakuasi dan titik aman pengungsian, bahkan sudah disiapkan sebagai bagian mitigasi bencana di pesisir Lamsel.

Selain aktivitas nelayan yang kembali normal, arus penyeberangan di lintas Bakauheni-Merak, juga normal. Kondisi tersebut dibenarkan Warsa, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (DPC Gapasdap)  Cabang Bakauheni.

Saat dikonformasi Cendana News, Warsa mengatakan, saat gempa bumi berpotensi tsunami pada Jumat (2/8) malam, pihaknya berkoordinasi dengan operator pelayaran.

“Gapasdap langsung respons cepat memantau kondisi muka air laut di dermaga, mengimbau nakhoda untuk waspada serta menunggu informasi resmi BMKG,” papar Warsa.

Menerut Warsa, sesuai data sejak Sabtu (3/8) pagi pergerakan kapal roll on roll off (Roro), normal. Kondisi cuaca perairan berjalan dengan normal, sehingga aktivitas kapal tidak terganggu. Koordinasi terkait kondisi pelabuhan dilakukan bersama dengan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) wilayah IV Bengkulu-Lampung dan ASDP Indonesia Ferry Bakauheni.

Warsa mengatakan, sejumlah armada kapal yang beroperasi pada Sabtu (3/8), bahkan lebih banyak dibandingkan Jumat (2/8) malam. Jika sebelumnya kapal beroperasi hanya 26 hingga 27 unit kapal, pada akhir pekan ini rata-rata kapal beroperasi sebanyak 28 hingga 30 kapal.

Peningkatan jumlah tersebut dipengaruhi akhir pekan dengan volume penyeberangan meningkat. Selain dilayani oleh lima dermaga reguler, pelayanan pelayaran dilayani satu dermaga eksekutif dengan tiga unit kapal.

Selain memantau aktivitas kegempaan dari BMKG, Warsa menyebut pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) juga dilakukan. Ia memantau aktivitas GAK dari Magma Volcanic Activity Report (VAR). Sesuai dengan periode pengamatan GAK (157 mdpl), kondisi meteorologi dalam cuaca cerah. Angin bertiup lemah ke arah timur. Suhu udara 22.4-29.4 °C, kelembaban udara 57-90 persen, dan tekanan udara 0-0 mmHg.

Secara visual, gunung terlihat  kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. Ombak laut tenang. Sementara kegempaan meliputi vulkanik dangkal jumlah 3, Amplitudo 11-32 mm, durasi 7-15 detik. Vulkanik dalam, jumlah 1, amplitudo 15 mm, S-P 1 detik, durasi enam detik. Tektonik jauh jumlah 1, Amplitudo 50 mm, S-P tidak terbaca, durasi 345 detik.

Selain itu, teramati tremor menerus (Microtremor) terekam dengan amplitudo 1-38 mm (dominan 7 mm).
Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih Level II atau Waspada. Nelayan, wisatawan dan masyarakat tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

Selain itu, bagi nakhoda di Selat Sunda, Warsa mengimbau selalu untuk berkoordinasi dengan Ship Traffic Control (STC) dan memantau cuaca dari BMKG sekaligus alat-alat navigasi.

Lihat juga...