Ikan Tribang Banjiri Pasar Ikan di Bali
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
BADUNG – Pasar ikan kedonganan kebanjiran ikan Tribang dari Jawa. Sebut saja Abdul Muthalib, salah seorang pedagang ikan di pasar Kedonganan, Kuta Selatan Badung, Bali. Ia menjelaskan, ikan Tribang ini dipasok dari pantai utara (pantura) Jawa Timur dan kawasan Pulau Madura.
“Ikan ini kami pasok langsung dari Pulau Madura dan kawasan Jawa Timur Mas,” jelas Abdul saat ditemui, Senin (1/7/2019).
Pria yang akrab disapa Abdul ini menuturkan, ikan Tribang ada mulai musim awal bulan Juni hingga akhir bulan Agustus. Ikan Tribang ini kata Abdul hanya bisa ditangkap di perairan dangkal.
Karena ikan Tribang merupakan salah satu ikan demersal, kadang membentuk gerombolan, hidup terutama pada daerah perairan pantai dengan dasar lunak. Seperti pasir dengan sedikit lumpur. Ikan Tribang hidup di dasar, karang-karang, dasar lumpur atau lumpur pasir pada kedalaman 10-50 m.

Untuk harga jualnya pun relatif cukup merogoh kocek. Bayangkan saja, untuk bisa mendapatkan ikan yang kata orang Jawa disebut Ikan Kurisi ini, masyarakat harus mengeluarkan uang sebesar Rp35 hingga Rp40 ribu rupiah per satu kilogram. Jadi benar-benar merupakan sekelas ikan jungky pada umumnya.
“Untuk sekilo biasanya isi empat atau lima. Tergantung besarnya saja menurut kami Mas,” kata pria asal Probolinggo ini.
Meski relatif cukup mahal, namun ikan Tribang ini banyak peminatnya. Karena Ikan Tribang ini menurut penelitian tergolong jenis ikan уаng berprotein tinggi dan rendah lemak.
Ikan yang tergolong berlemak rendah dan berprotein tinggi memiliki kandungan protein 15-20% dan kandungan lemaknya kurang darі 5%.
Dea, salah seorang pembeli ikan Tribang mengaku sangat menyukai ikan ini. Karena menurutnya ikan Tribang memiliki tekstur daging yang lembut. Namun, menurutnya harus tetap hati-hati saat mengkonsumsi, karena ikan ini memiliki cukup banyak tulang.
Selain itu, cara pengolahannya pun harus benar-benar hati-hati dan dicuci bersih. Karena kalau tidak bersih, maka akan terasa pahit dan berbau batu karang.
“Awalnya dulu saya begitu Mas, tapi lama-kelamaan sudah terbiasa. Dagingnya lembut dan meski dimasak tanpa menggunakan bumbu, ikan ini tetap enak,” jelas Dea.
Menurut Dea, ia hampir tiap hari membeli ikan Tribang. Seperti bulan-bulan ini. Karena keluarganya pun menyukai.
“Anak-anak dan suami suka ikan ini,” tandasnya.