Ubud Menjadi Destinasi Gastronomi Dunia
Editor: Mahadeva
GIANYAR – Organisasi Pariwisata Dunia atau United Nations World Tourism Organization (UNWTO), menetapkan Desa Ubud menjadi destinasi gastronomi atau kuliner standar global.
Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI, Vita Datau Messakh, mengatakan, penetapan tersebut merupakan tahapan pengembangan produk wisata gastronomi. “Program yang dikerjakan oleh Kementerian Pariwisata dan UNWTO memasuki tahapan kunjungan untuk penilaian atas destinasi,” ungkap Vita Datau, Kamis, (13/6/2019).
Vita mengatakan, Kemenpar telah mengusulkan Ubud sebagai destinasi gastronomi pada UNWTO sejak 2017 lalu. Pasalnya, secara umum, Indonesia memiliki potensi besar dalam keragaman budaya. Termasuk melimpahnya aneka bahan pangan lokal yang mendukung terwujudnya destinasi pariwisata Gastronomi.
Terdapat tiga tahapan untuk menjadikan Ubud sebagai destinasi gastronomi internasional. Dimulai dari pencatatan aset dan atraksi gastronomi, untuk memetakan penyiapan industri dan pelaku usaha. Kemudian disusun menjadi laporan yang diajukan untuk UNWTO.
Tahap kedua, masuk ke penilaian UNWTO. Ada proses verifikasi dan analisis, melalui wawancara dengan para pemangku jabatan gastronomi, hotel, restoran, juru masak, penggagas festival makanan, pemerintah daerah, akademisi, travel agent, serta wisatawan.
“Proses penilaian berlangsung selama delapan hari di Ubud, dan sekitarnya. Begitu juga kuesioner akan dilaksanakan dengan metode online dan offline selama tiga pekan, sembari mematangkan perencanaan dan strategi rekomendasi,” jelas Vita Datau.
Di tahap ketiga, rekomendasi yang perlu dilakukan para pemangku jabatan untuk penilaian kedua yang dicanangkan pada awal Agustus 2019 mendatang. “Kami mengusahakan agar program ini terealisasi secepatnya, sehingga Ubud menjadi prototipe gastronomi holistik pertama di Indonesia dan dunia,” jelas Vita.
Pimpinan ahli yang ditunjuk UNWTO, Roberta Garibaldi, menjelaskan, destinasi gastronomi yang holistik memiliki nilai warisan budaya. Ditunjang kualitas produk lokal atau bahan makanan yang industrinya memiliki progres. “Berbagai fasilitas gastronomi cukup mumpuni dan selaras, seperti restoran, warung, cafe, bar yang tetap menonjolkan nilai kearifan lokal,” ucapnya.
Menurut Roberta, perdagangan terkait gastronomi berkembang karena pasar tradisional, produk organik, termasuk edukasi kuliner yang formal maupun informal. Diperlukan juga fasilitas lain, museum, tempat membuat makanan, minuman lokal yang menjadi pusat edukasi publik termasuk lembaga riset gastronomi, festival. ”Ubud, kami lihat, memiliki semua syarat itu,” tandasnya.
Penglingsir Puri Agung Ubud, Ida Tjokorda Raka Sukawati, mengatakan, perjalanan Ubud hingga dikenal dunia sangatlah panjang. Hal itu tidak terlepas dari kuatnya Ubud dalam menjaga tradisi seni budaya, yang melekat dari generasi ke generasi.
Ditunjang dengan segala potensi alam, dan kearifan lokalnya, menjadikan Ubud sangat unik di mata wisatawan. “Tentunya, penetapan sebagai destinasi gastronomi akan semakin menambah daya tarik Ubud, dan semoga kedepannya, potensi kuliner lokal yang Ubud miliki, akan semakin dikenal dunia,” pungkas Tjokorda Raka Sukawati.