Santunan dan Jadup Diterima, Korban Tsunami Kembali Semangat Bekerja

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah korban tsunami Selat Sunda 22 Desember 2018 yang menempati hunian sementara (huntara) telah menerima santunan keluarga meninggal dan jaminan hidup (Jadup).

Rohani, warga Desa Way Muli Induk, Kecamatan Rajabasa menyebut menerima jadup sebesar Rp2,4 juta dihitung untuk empat anggota keluarga. Ia menyebut tidak menerima santunan kematian karena seluruh anggota keluarganya selamat.

Rohani, salah satu pengungsi yang menempati hunian sementara di Desa Way Muli Induk, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Jadup yang diterima dalam bentuk rekening tabungan telah diterima dari Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial RI pada Senin (24/6).

Meski sudah menerima jadup, ia menyebut masih menyimpan uang dalam rekening miliknya. Tinggal di huntara dengan rumah yang sudah hancur di tepi pantai membuat ia harus kehilangan pekerjaan sebagai nelayan. Beruntung ia masih bisa mencari ikan dengan memakai perahu katir ukuran kecil.

Meski sudah tinggal di huntara selama hampir tiga bulan, Rohani masih berharap bisa memiliki hunian tetap (huntap).

Meski demikian proses penentuan lokasi oleh pemerintah daerah membuat ia harus sabar menunggu. Bersama dengan sejumlah warga korban tsunami, ia mengaku mulai berusaha melupakan kisah kelam bencana alam itu.

“Beberapa hari ini gunung Anak Krakatau mulai kembali aktivitas namun hanya erupsi kecil jadi tidak mengganggu aktivitas nelayan mencari ikan untuk kebutuhan hidup harian,” ungkap Rohani saat ditemui Cendana News, Jumat (28/6/2019) malam.

Tinggal di huntara ia menyebut mendapat fasilitas listrik memadai dan fasilitas air bersih yang memadai. Meski demikian ia masih tetap berusaha untuk bisa memiliki perahu yang bisa dipergunakan untuk mencari nafkah.

Sebab jadup yang diberikan oleh Kemensos hanya sebesar Rp10.000 per jiwa untuk jangka waktu 60 hari atau dua bulan. Selebihnya ia harus mencari tambahan sumber penghasilan dengan mencari ikan.

Sementara itu Rudi Saputra warga Way Muli Timur, korban tsunami masih menjalani perawatan. Selain mendapatkan jadup, bersama sang istri harus kehilangan dua anaknya yang masih berusia 8 dan 3,5 tahun.

Santunan kematian sebesar Rp30 juta untuk dua anaknya, serta jadup sebesar Rp1,2 juta masih tersimpan di rekening. Ia mengaku masih fokus untuk proses penyembuhan kakinya.

“Saya belum bisa bekerja mencari nafkah namun sang istri bisa membantu dan mendukung saya, setelah sembuh saya tetap ingin bekerja,” ujar Rudi Saputra.

Rudi Saputra menyebut sengaja tidak tinggal di huntara karena memilih tinggal di Kalianda. Ia tinggal mengontrak di dekat Rumah Sakit Dr. Bob Bazaar Kalianda untuk memudahkan proses perawatan.

Meski telah mendapatkan jadup dan santunan, ia mengaku masih gamang untuk menjalani hari harinya. Berharap segera sembuh, ia pun enggan untuk kembali ke rumahnya yang sudah hancur akibat tsunami.

Tujuh bulan usai tsunami menerjang, sejumlah nelayan budidaya di pesisir timur Lampung kembali beraktivitas. Sebagian nelayan yang sudah kembali melakukan budidaya rumput laut bahkan tidak lagi mengalami kerusakan akibat kondisi gelombang dan cuaca perairan di Selat Sunda.

Hasan, pemilik budidaya rumput laut mengungkapkan, berbeda dengan korban tsunami lainnya ia harus berusaha swadaya untuk kembali bangkit.

“Meski terdampak tsunami namun hanya lokasi dan tanaman rumput laut sehingga tidak ada bantuan,” ungkapnya.

Meski demikian ia menyebut masih tetap akan melanjutkan usahanya sebagai pembudidaya rumput laut. Meski dalam sepekan terakhir, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai mengeluarkan letusan kecil, kondisi tersebut tidak dikhawatirkan nelayan budidaya dan nelayan tangkap.

Sebagian nelayan yang berhadapan langsung dengan Gunung Anak Krakatau bahkan masih tetap beraktivitas melaut untuk mencari nafkah.

Lihat juga...