Seorang Pemimpin Harus Merangkul dan Bukan Memukul

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Seorang pemimpin yang baik adalah yang merangkul dan bukan yang memukul. Pemimpin yang seperti itu, bisa mendatangkan kesejukan dan kedamaian, serta dukungan dari rakyatnya.

Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Anwar Abbas, pada silaturahmi Forum Ukhuwah Islamiyah bertajuk, Mengokohkan Persatuan Umat Pasca Pemilu Damai Bersama Keberkahan Ramadan 1440 Hijriyah, di Kantor MUI Pusat, Jumat (3/5/2019).

Menurut Anwar, penting menegakkan pemilu yang jujur dan adil (jurdil). Hal itu, untuk memenuhi rasa keadilan umat.  Jika dibutuhkan, segera dilakukan pemilihan ulang khususnya pada TPS-TPS yang bermasalah.

Namun, para peserta kompetisi diharapkan bisa menerima hasil perhitungan suara dengan iklas dan legowo. Anwar juga meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) berlaku jurdil, dalam proses perhitungan suara, serta tidak boleh salah. Jika salah dalam menghitung dan dalam memasukkan data, maka negeri ini akan mengalami keributan. “Itu jelas tidak kita inginkan karena dampaknya sangat besar, terutama dalam bidang sosial ekonomi,” tukas Anwar.

Secara sosial, relasi antar warga akan bermasalah. Dan secara ekonomi, kesejahteraan rakyat akan sangat terganggu, lantaran dunia bisnis dan industri tidak akan berjalan dengan baik. Menyambut Ramadan, Anwar mengimbau, semua pihak yang berkompetisi dalam Pemilu 2019, mampu menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu.

Menurutnya, kejujuran akan mengangkat harkat dan martabat manusia di hadapan Allah SWT. Sebagai bangsa, kita harus melangkah ke masa depan dengan lebih berwibawa. Untuk mewujudkan terbentuknya baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur.

Anwar menyebut, seorang pemimpin bila memperoleh kekuasaan dengan cara tidak terhormat, bisa mengancam eksitensi bangsa. Bangsa akan kuat dan maju, kalau memiliki rasa kebersamaan dan persatuan diantara sesama warganya. Masalah besar bangsa Indonesia saat ini adalah, kebersamaan dan persatuan, serta kesatuan yang sedang terkoyak karena proses Pemilu yang diwarnai ketidakjujuran dan ketidakadilan.

Perbedaan adalah realitas yang tidak bisa dihindarkan, namun tentunya, perpecahan di kalangan umat Islam tidak boleh terjadi, Umat harus segera disatukan, agar tidak menjadi titik kelemahan Islam.

Lihat juga...