Puncak Arus Mudik di Bandar Udara Ngurah Rai Diprediksi H-2
Edirtor: Koko Triarko
BADUNG – General Manager Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Haruman Sulaksono, memprediksi puncak arus pergerakan menjelang Lebaran akan terjadi pada H-2, dengan jumlah 471 pergerakan pesawat udara dan 76.974 penumpang terangkut.
Sedangkan untuk puncak arus pergerakan pascalebaran akan jatuh pada H+3 Lebaran, dengan 471 pergerakan pesawat dan 84.385 penumpang.
“Untuk menjamin kelancaran, keselamatan, dan keamanan penerbangan, kami telah berkoordinasi secara internal untuk memastikan kesiapan infrastruktur utama dan pendukung. Kami juga menyediakan mobil ambulans yang siap siaga 24 jam, untuk mengantisipasi jika terdapat penumpang yang membutuhkan bantuan kesehatan,” kata General Manager Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Haruman Sulaksono, usai apel pembukaan Posko Terpadu Angkutan Lebaran, Selasa (28/5/2019) sore.

Sementara itu, untuk memastikan kesiapan dan keamanan pesawat, pihak Otoritas Bandara Ngurah Rai Bali melakukan pengecekan secara berkala.
Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV, Elfi Amir Mas, mengatakan, pengecekan pesawat tersebut bahkan sudah dilakukan jauh hari sebelum musim Lebaran.
Menurut Amir, ada tiga bandara yang berada di bawah naungan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV. Yaitu, Bandara Ngurah Rai Bali, Bandara Internasional Lombok NTB dan Bandara Internasional El Tari Kupang NTT.
“Sampai hari ini juga masih dilakukan, dan setiap hari kami pantau untuk kesiapan pesawat,” kata Amir.
Sementara itu, Posko Angkutan Terpadu Lebaran 2019 Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, dibuka untuk mengantisipasi lonjakan arus pergerakan pesawat udara serta penumpang yang keluar masuk Bali, selama periode Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah, yang akan jatuh pada pertengahan pekan depan.
Posko yang akan beroperasi selama 24 jam per hari tersebut, akan beroperasi selama rentang waktu 16 hari, terhitung mulai 29 Mei 2019 hingga 13 Juni 2019, diawaki oleh personel dari sejumlah institusi, yaitu PT Angkasa Pura I (Persero), Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV, Kantor Kesehatan Pelabuhan, TNI Angkatan Udara Pangkalan Udara Ngurah Rai, Kepolisian Sektor Kawasan Udara Ngurah Rai, Badan SAR Nasional (Basarnas), Stasiun Meteorologi Kelas I Ngurah Rai, serta Unit K9 dari Kepolisian Daerah Bali.
“Secara rutin, Posko Angkutan Lebaran dioperasikan untuk mendukung dan mengantisipasi tingginya tingkat pergerakan pesawat udara dan lonjakan penumpang pada periode libur Hari Raya Idul Fitri, serta mengantisipasi hal-hal yang bersifat regular, sehingga dapat diantisipasi secara cepat,” kata Haruman.
Menurutnya, melihat data di tahun-tahun sebelumnya, menghabiskan masa libur Lebaran di Bali bagi penumpang domestik masih merupakan hal yang populer. Sementara bagi penumpang dari mancanegara, Bali masih tetap populer sebagai destinasi wisata, mengingat di bulan Juni ini sudah mulai memasuki summer season di belahan bumi bagian barat.
Haruman menambahkan, jumlah pergerakan pesawat dan penumpang yang lebih tinggi dibandingkan hari-hari biasanya, mengharuskan pihaknya untuk lebih siap dalam memberikan pelayanan kepada penumpang.
Selain itu, penempatan personel selama 24 jam selama pelaksanaan posko, juga untuk memastikan kondisi keamanan dan keselamatan penerbangan tetap terjaga.
Masih kata Haruman, selama operasional posko, personel akan disiapsiagakan untuk mengawaki Posko Terpadu Angkutan Lebaran, yang akan dibagi menjadi 3 shift, pagi, siang, dan malam. Dalam setiap shift, 39 personel lintas institusi, komunitas, bandar udara siap sedia dalam memastikan pelayanan terbaik bagi para penumpang.
“Selama pelaksanaan posko, sebanyak 1.648 personel gabungan yang berasal dari berbagai institusi akan disiagakan untuk menjamin keamanan dan keselamatan penerbangan, serta kelancaran arus pergerakan penumpang di dalam areal bandar udara,” jelas Haruman.
Dari data yang dihimpun hingga H-1 operasional posko, terdapat dua maskapai yang telah mengajukan permohonan penerbangan tambahan atau (extra flight), yaitu Batik Air dan AirAsia. Dari dua maskapai tersebut, total permohonan (extra flight) sebanyak 216 penerbangan, dengan rincian AirAsia mengajukan 84 permohonan, serta Batik Air dengan 132 permohonan. Jika dibandingkan dengan jumlah permohonan di tahun lalu, terdapat 765 permohonan extra flight, terdapat penurunan.
“Meskipun di tahun ini jumlah pengajuan extra flight jauh lebih sedikit, tetapi kami tetap berkomitmen untuk menyediakan pelayanan terbaik demi terselenggaranya penerbangan yang aman, nyaman, dan selamat,” tambah Haruman.
Selaku pengelola bandar udara, PT Angkasa Pura I (Persero) turut melakukan koordinasi dengan pihak maskapai penerbangan serta ground handling, untuk melakukan antisipasi jika terjadi lonjakan jumlah penumpang dan peningkatan lalu lintas penerbangan selama periode pelaksanaan Posko Terpadu Angkutan Lebaran, supaya kinerja ketepatan waktu penerbangan atau On-Time Performance (OTP) tetap terjaga, atau bahkan dapat ditingkatkan.