Permintaan Buah Kolang-kaling di Lamsel Mulai Meningkat
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Permintaan kolang kaling atau buah aren jelang Ramadan di Lampung Selatan, mulai meningkat. Buah ini seringkali dibuat menjadi es buah, kolak, manisan dan minuman lainnya. Jamal, salah satu perajin kolang kaling di Desa Rawi, Kecamatan Penengahan, mengaku sudah menyiapkan ratusan tandan kolang kaling, yang akan diambil bagian buahnya, setelah melalui beberapa proses.
Aktivitas tersebut merupakan pekerjaan musiman pada setiap bulan Ramadan. Ia biasa menyiapkan 5 ton kolang kaling. Buah dibeli dari petani yang berada di kaki Gunung Rajabasa, dengan sistem borongan, rata-rata per pohon Rp100.000 hingga Rp200.000.
Harga pembelian tandan kolang kaling segar, menyesuaikan jumlah buah dalam satu tandan. Tugas berkeliling mencari pohon dan membeli dilakukan oleh salah satu pekerja.

Buah kolang kaling yang sudah dipetik, selanjutnya dibawa ke lokasi produksi untuk direbus. Pada bulan April, Jamal sudah mulai melakukan pembelian kolang kaling dari petani. Meski demikian, ia menyebut saat ini sulit memperoleh buah kolang kaling.
Namun faktor musim buah yang belum tua, membuatnya kesulitan mendapatkan kolang kaling dalam jumlah banyak. Faktor lainnya, penebangan pohon aren penghasil kolang kaling membuat perajin kesulitan pasokan bahan baku.
“Bahan baku pembuatan kolang kaling dominan diperoleh dari kaki gunung Rajabasa, karena tanaman aren merupakan tanaman reboisasi yang hanya akan dimanfaatkan pada bagian buah dan ijuknya,” terang Jamal, saat ditemui Cendana News, Kamis (2/5/2019).
Buah kolang kaling yang dibeli dua pekan sebelum Ramadan, terlebih dahulu dilayukan, untuk menghilangkan getahnya. Selain itu, juga mempermudah proses perebusan dan pengupasan.
Direbus menggunakan drum serta bahan bakar kayu, proses pengolahan kolang kaling dilakukan dengan beberapa tahap. Setelah direbus, kolang kaling akan didiamkan dalam air bersih, untuk menghilangkan getah yang bisa mengakibatkan gatal saat terkena kulit.
Setelah proses perebusan dan perendaman, buah aren penghasil kolang kaling dikupas. Hasil pengupasan berupa biji bening buah kolang kaling. Buah kolang kaling tersebut selanjutnya direndam dalam air bersih berkali-kali, untuk menghasilkan buah yang kenyal dan empuk.
Proses perendaman kolang kaling berkali kali sekaligus membuat buah akan mengembang lebih besar dari ukuran awal. Perajin juga kerap melakukan proses pembelahan buah kolang kaling menjadi dua bagian.
“Buah kolang kaling yang kami buat masih berupa bahan baku, nanti akan dibeli oleh distributor dan dikirim ke pedagang minuman,” beber Jamal.
Di tingkat produsen, buah kolang kaling dijual seharga Rp9.000 per kilogram. Pada level pengecer, buah kolang kaling siap dibuat menjadi sejumlah minuman dijual Rp12.000 per kilogram, bahkan bisa mencapai Rp15.000 per kilogram.
Tingkat kesulitan mencari bahan baku kolang kaling dari pohon aren serta proses pembuatan, mengakibatkan harga kolang kaling cukup mahal.
Selain dijual di pasar lokal, buah kolang kaling sebanyak 4 ton kerap dikirim ke wilayah Banten. Omzet dari membuat kolang kaling bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Omzet tersebut, kata Jamal, dihitung dari hasil penjualan per kilogram, rata-rata Rp9.000 untuk 4 ton kolang kaling. Meski demikian, hasil penjualan akan dikurangi biaya produksi, ongkos transportasi serta membayar pekerja. Hasil bersih sekitar Rp5 juta bisa digunakan untuk keperluan bulan Ramadan dan Idul Fitri.
Jamal menyebut, pembuatan kolang kaling, kerap dilakukan saat bulan Ramadan, menyesuaikan permintaan. Melalui usaha tersebut, ia bisa memperoleh keuntungan menjanjikan. Pekerjaan sebagai petani dan peternak kambing, tidak terganggu dengan usaha pembuatan kolang kaling tersebut.
Selain itu, bahan baku masih bisa diperoleh dari petani yang mempertahankan pohon aren sebagai penghasil kolang kaling.
Sumitro, pemilik lima batang pohon aren, menyebut sebagian pohon aren miliknya berbuah cukup lebat. Keberadaan pohon aren sebagai tanaman penahan longsor, kerap menjadi tambahan penghasilan baginya.
Jika rata rata satu pohon ditebas oleh perajin kolang kaling seharga Rp200.000, ia bisa mendapatkan hasil Rp1 juta untuk lima batang pohon aren. Sebelumnya, ia memiliki puluhan pohon aren, namun karena sebagian sudah tidak produktif, terpaksa ditebang.
Pohon aren kerap dibeli oleh pembuat tepung sagu untuk bahan pembuatan tepung roti dan mie. Meski menjual dalam bentuk pohon seharga Rp250.000 per batang, ia lebih memilih mempertahankan pohon aren untuk diambil buahnya.
Sebab, pohon aren yang bisa berbuah setiap tahun bisa memberinya keuntungan berlipat. Pohon aren juga menjadi peresap air yang menjaga pasokan air bagi sumur yang dimiliki warga di wilayah tersebut.