Pengelolaan TNK Perlu Kolaborasi Masyarakat Adat dan Balai

Editor: Mahadeva

ENDE – Upaya melestarikan hutan, untuk menjaga Taman Nasional Kelimutu (TNK), pemerintah dan masyarakat adat harus membangun konsensus ulang.

Kedua belah pihak perlu bersama-sama membangun kolaborasi, antara apa yang diinginkan masyarakat dan apa yang harus difasilitasi pemerintah. Hal itu demi upaya pelestarian adat dan budaya.

“Untuk itu Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) berinisiatif untuk terus mengkawal pemerintah dan TNK agar program pemerintah pusat yang berdampak pada perubahan regulasi dan kebijakan,” sebut Ketua AMAN Nusa Bunga, Philipus Kami, Selasa (7/5/2019).

Regulasi dan kabijakan tersebut, harus membangun pertemanan antara masyarakat dengan kehutanan maupun Balai TNK. Hal itu penting, agar tidak muncul stigma dari masyarakat adat, yang mengatakan bahwa masyarakat adat itu bodoh, tinggal di daerah pinggiran dan penilaian negatif lainnya.

“Namun yang terpenting, wilayah TNK  adalah juga merupakan bagian dari wilayah adat 23 komunitas masyarakat adat. Makanya harus didiskusikan secara baik, agar tidak terjadi diskriminasi dari para pihak baik dari pemerintah, Balai TNK maupun diantara sesama masyarakat adat itu sendiri,” tuturnya.

Oleh karena itu, manajemennya harus diatur secara baik. Dengan nama besar TNK, diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat adat yang ada di sekitar TNK. “Kita tidak berharap adanya pendiskriminasian terhadap masyarakat adat sehingga tidak ada pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat. Jangan sampai hutan yang ada di kawasan TNK dan gunung yang selama ini dijaga, masyarakat adat,malah mereka dipenjarakan,” tegasnya.

Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu (TNK) Agus Sitepu. Foto : Ebed de Rosary

Konflik yang mengibatkan masyarakat adat dipenjara ini tidak diinginkan bersama, karena menyimpang dari cita–cita kemerdekaan Indonesia. Jika menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik, maka harus dicari metode terbaik untuk bersama–sama menjaga TNK agar semakin bagus dan lingkungan menjadi sehat dan baik.

Kepala Balai TNK, Agus Sitepu, menyebut, pihaknya juga berkewajiban mendorong masyarakat adat, yang bermukim di sekitar kawasan TNK. Harapannya, masyarakat bisa bekerjasama menjaga wilayah TNK. “Kami membuka diri dan selalu bekerja sama dengan masyarakat adat. Dalam berbagai kegiatan, kami melibatkan masyarakat adat apalagi terkait dengan adat dan budaya,” ungkapnya.

Agus berharap, masyarakat yang tinggal di sekitar TNK harus bisa berbenah dan mengubah diri. Harapannya, bisa mendapatkan manfaat dari kunjungan wisatawan ke TNK. Balai akan mendukung berbagai langkah mengembangkan destinasi wisata di desa sekitar kawasan TNK.

Lihat juga...