Pengelolaan Pariwisata di Sumbar Masih Perlu Ditingkatkan

Editor: Koko Triarko

PADANG – Provinsi Sumatra Barat yang memiliki kekayaan pariwisata, perlu lebih fokus mengelolanya. Hal ini karena pariwisata dinilai salah sebagai satu sumber perekonomian yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mempopulerkan Sumatra Barat. 

Wakil Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit, mengatakan kebenaran pariwisata berada di Pemerintah Kabupaten dan Kota, dan perlu baginya mengimbau semua kepala daerah, untuk saling mendukung pengelolaan potensi pariwisata.

“Di Sumatra Barat ini banyak sekali ragam wisatanya, ada wisata alam, budaya, kuliner, dan wisata jejak sejara. Semua itu dimiliki oleh kabupaten dan kota, dan bukan dari Pemprov. Saya rasa kepala daerah harus serius mengelolanya,” katanya, Jumat (24/5/2019).

Nasrul mengatakan, Pemprov mempunyai keinginan agar pariwisata dapat berkembang, dengan adanya inovasi-inovasi yang lebih kreatif, baik itu pariwisata yang dikelola oleh pemerintah maupun pihak swasta. Tetapi, mengingat kewenangan dari kabupaten dan kota, Pemprov tidak dapat berbuat banyak.

“Jadi, yang saya maksud itu kita harus saling kerja sama, ada sinkronisasi pemprov dengan pemerintah kabupaten dan kota, dan juga pihak swasta, bagaimana pariwisata benar-benar bagus, apalagi Sumatra Barat memiliki wisata halal, sehingga banyak hal yang bisa jadi unggulan,” kata Nasrul.

Ia menyebutkan, dalam mengembangka pariwisata halal di Sumatra Barat ini, pemerintah kabupaten dan kota harus tegas untuk memudahkan urusan lahan. Seperti jika pihak luar atau investor ingin membangun wisata halal, perlu diberi kemudahan.

Nasrul melihat, pengembangan pariwisata halal di Sumatra Barat sampai saat ini belum bisa dikatakan pesat. Karena melihat dari 100 persen yang ditargetkan, perkembangan wisata halal di Sumatra Barat, belum mendekati 50 persen.

“Meksi demikian, pemprov akan terus berupaya agar pengembangan wisata tidak berhenti. Untuk itu, kepada pihak perhotelan sebagai salah satu ujung tombak wisata, supaya menetapkan standar yang memadai. Seperti standar pakaian pelayanan di hotel harus Islami atau berpakaian tertutup,” sebutnya.

Selain itu, rumah makan dan restoran juga harus menjaga standar kebersihan, supaya pengunjung merasa nyaman saat berkunjung. Terutama untuk memastikan makanan yang disajikan tersebut halal dan sehat untuk dikonsumsi.

“Saya pernah lihat, ada toilet di rumah makan dan restoran yang bau. Artinya, dari sisi ini perlu juga diperhatikan, karena bagian dari kata kenyamanan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatra Barat, Wahyu Purnama, mengatakan pemerintah daerah perlu lebih serius menggarap potensi pariwisata. Hal ini mengingat, sektor pariwisata merupakan sumber alternatif untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

“Perekonomian Sumatra Barat ini terbilang tumbuh melambat, yakni hanya 4,78 persen. Padahal, melihat pada triwulan IV 2018, pertumbuhan ekonomi provinsi Sumatra Barat mencapai 5,50 persen. Makanya, pariwisata perlu lebih serius untuk dikelola,” katanya.

Wahyu melihat, peran pariwisata tidak hanya soal menghadirkan keindahan dan kelezatan kuliner, namun juga berdampak kepada  mengembangkan UMKM, perhotelan, transportasi dan lain-lain. Hal ini yang perlu digarap dengan baik, agar perekonomian membaik.

Menurutnya, dengan turunnya perekonomian di Sumatra Barat, pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat berada di bawah Sumatra Utara, Sumatera Selatan, Lampung dan Bengkulu, untuk wilayah Pulau Sumatra.

“Harusnya Sumatra Barat lebih menyedot animo wisatawan, karena Provinsi Sumatra Barat dianugerahi keindahan alam di banyak tempat, dan kebudayaan yang menarik untuk diketahui, dan kelezatan kulinernya,” ucapnya.

Ia berpendapat, selama ini yang membuat penurunan pertumbuhan  ekonomi Sumatra Barat, adalah karena impor terlalu banyak ketimbang ekspor. Untuk mengimbangi hal tersebut, bisa dilakukan dengan menarik perhatian wisatawan asing berkunjung, agar mata uang asing lebih banyak masuk ke Sumatra Barat.

“Kalau itu terwujud, saya perkirakan dapat mendorong pertumbuhan perekonomian di Sumatra Barat ke kondisi yang lebih baik,” sebut Wahyu.

Lihat juga...