Pasar Murah Pasar Bawang di Solo Belum Mampu Kendalikan Inflasi
SOLO – Bank Indonesia (BI) menyatakan, langkah pasar murah bawang putih yang diselenggarakan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Surakarta, beberapa waktu yang lalu, belum mampu mengendalikan inflasi.
“Bulan April lalu, kami sudah melakukan kegiatan pasar murah khusus bawang bersama TPID Surakarta. Meski demikian, ternyata belum memberikan dampak signifikan untuk mengendalikan inflasi,” kata Kepala Tim Sistem Pembayaran Pengelolaan Uang Rupiah dan Layanan Administrasi (SPPURLA) Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Surakarta, Bakti Artanta, di Solo, Jumat (3/5/2019).
Ia mengatakan, kenaikan harga bawang putih tersebut terjadi, mengingat impor bawang putih masih dalam proses pengiriman ke Indonesia.
“Selain itu, di Tiongkok masih ada beberapa kegiatan di perairan sehingga aktivitas pengiriman masih tersendat. Kemungkinan nanti ketika puasa dan Lebaran sudah bisa berjalan dengan lebih baik,” katanya.
Ia mengatakan, tingginya harga bawang putih tersebut tidak hanya terjadi di Kota Solo maupun Soloraya, tetapi juga secara nasional. Karena itu, ia berharap pasar, baik itu pedagang maupun konsumen, tidak perlu khawatir dengan kondisi tersebut, mengingat pemerintah tengah mengupayakan datangnya komoditas tersebut ke Indonesia.
Sebelumnya, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surakarta, komoditas bawang putih masih memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap inflasi bulan April 2019.
“Dibandingkan bulan sebelumnya, April 2019 Kota Solo mengalami inflasi sebesar 0,68 persen, dengan indeks harga konsumen sebesar 130,93 persen. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan Maret yang mengalami inflasi 0,29 persen,” kata Kepala BPS Kota Surakarta, R Bagus Rahmat Susanto.
Berdasarkan data, dikatakannya, April ini harga bawang putih naik 29,95 persen dan menjadi komoditas tertinggi penyumbang inflasi.
“Sedangkan dari sisi kelompok komoditas, kelompok bahan makanan secara keseluruhan naik 2,33 persen,” katanya. (Ant)