Maksimalkan Hasil, Petani di Lamsel Kembangkan Sistem Mina Padi
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Ajum (50) warga Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan menyebutkan, sistem mina padi, gabungan antara pertanian dan budidaya ikan pada satu lahan yang diterapkan dalam setahun terakhir sangat menguntungkan secara ekonomis.
“Penerapan teknologi tepat guna dengan diversifikasi pertanian sangat cocok di daerah yang sumber daya airnya melimpah dan bisa memaksimalkan hasil,” terang Ajum saat ditemui Cendana News, Senin (13/5/2019).
Meski hanya seluas setengah hektare ia memaksimalkan potensi lahan yang ada untuk lahan pertanian. Varietas yang digunakan yakni Muncul Cilamaya yang tahan pada genangan air sedangkan jenis ikan yang dibudidayakan nila, mujahir dan mas.
Lahan yang dijadikan sawah, semula merupakan kawasan tanah padas berpasir dengan batu kerikil bertebaran. Namun berkat ketelatenan sekaligus pengalaman bertani di Garut ia membuat petak petak sawah menyesuaikan kontur tanah. Bentuk terasering atau sawah berundak bahkan berhasil dicetak dengan sumber air berasal dari mata air. Petak petak sawah yang masih minim tanah terpaksa diberi tambahan kompos sebagai pupuk.
“Saya memiliki empat ekor domba garut yang untuk atraksi dan kotorannya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk penyubur tanaman,”ujar Ajum.
Pada awal penanaman padi Ajum mengaku belum menerapkan sistem polikultur atau budidaya ikan dan padi. Sebab pada tahap awal ia menyebut lahan yang dikembangkan belum stabil untuk digenangi air. Memasuki masa tanam kedua dengan kondisi lahan sawah yang sudah stabil ia menerapkan mina padi. Sesuai dengan varietas padi Muncul Cilamaya yang bisa dipanen 120 hari atau hampir empat bulan ia harus menyesuaikan bibit ikan yang akan ditebar.
Bibit ikan nila,emas dan mujahir yang bisa dipanen usia 5-6 bulan terlebih dahulu dipelihara pada kolam. Memasuki masa tanam padi sepekan hari setelah tanam (HST) beberapa jenis ikan yang sudah berusia dua bulan bisa dimasukkan dalam petak petak sawah. Jumlah ikan yang ditebarkan menyesuaikan luasan petak sawah. Lahan yang terbatas membuat Ajum tidak menerapkan sistem parit meski pada bagian tepi lahan sawah dibuat lebih dalam daripada bagian tengah.
“Saluran air saya sekat menggunakan bambu sehingga saat proses pengeringan petak sawah, ikan bisa sementara digiring ke kolam,” cetusnya.

Penggunaan pakan dedak halus dari penggilingan padi untuk ikan sekaligus pupuk bagi padi. Dedak halus tersebut ditebarkan pada lahan sawah sebagai pakan ikan. Sebagian dedak yang tidak dimakan bisa menjadi pupuk bagi tanaman padi.
Pada pemanenan padi musim tanam sebelumnya pada lahan setengah hektare Ajum mengaku bisa mendapatkan 3,5 ton gabah kering panen (GKP). Selain itu dengan benih ikan sekitar 100 kilogram dengan waktu pemeliharaan sistem mina padi ia bisa memanen 400 hingga 500 kilogram ikan.
Keterbatasan lahan sawah disebut Ajum tidak menghalanginya untuk menerapkan intensifikasi dan diversifikasi lahan. Ikan yang dikembangkan dengan sistem mina padi diakuinya sebagian bisa langsung dijual. Sebagian dikembalikan ke kolam untuk pemancingan yang kerap dilakukan warga selama bulan suci ramadan.
Sistem pemancingan dilakukan dengan penimbangan dimana pemancing akan membeli ikan yang dipancing. Perkilogram ikan nila, mujahir dan mas dipatok Rp25.000 dan sewa pancing dan pakan Rp10.000.