LAMPUNG – Infrastruktur Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggibesar sepanjang 140,9 Kilometer, sudah dioperasikan penuh, sejak diresmikan pada awal Maret 2019, meski belum berbayar.
Kepala Cabang PT.Hutama Karya (HK) ruas Bakter, Hanung Hanindito, menyebut operasional jalan tol Sumatra ruas Bakter sudah berjalan kurang lebih tiga bulan. Rencananya, penerapan tol berbayar akan dimulai Jumat (17/5) mendatang.
Hanung Hanindito, menuturkan pemberlakuan tarif JTTS ruas Bakter yang akan dimulai 17 Mei 2019 pukul 00.00 WIB, agar dipersiapkan oleh pengguna jalan tol.

Ia mengimbau kepada seluruh pengguna jalan yang ingin melintasi jalan tol ruas Bakauheni-Terbanggi Besar, agar mengisi saldo uang elektroniknya sesuai tujuannya, agar tidak mengalami kendala pada gerbang tol. Sebab, seluruh gerbang tol Sumatra hanya menerima pembayaran secara nontunai (cashless).
Sejumlah uang elektronik (UE) yang bisa digunakan untuk bisa melewati tol adalah uang elektronik yang dikeluarkan oleh sejumlah bank, di antaranya Bank Mandiri, BNI, BRI, BTN, BCA. Pengisian saldo uang elektronik (top up) bisa dilakukan melalui ATM dan sejumlah toko retail.
Bagi sejumlah pengguna jalan tol yang belum memiliki kartu uang elektronik, pengelola tol akan bekerja sama dengan pihak bank untuk menjual kartu uang elektronik.
“Akan ada sejumlah petugas dari bank, di antaranya bank BNI yang menyiapkan BNI layanan gerak di rest area KM 87 dan KM 116 selama arus mudik dan balik, demikian juga dengan bank Mandiri dan BRI,” terang Hanung Hanindito, saat dikonfirmasi Minggu (12/5/2019).
Bagi kendaraan pengguna jalan tol di wilayah Pulau Jawa, ia menyebut umumnya sebagian sudah memiliki uang elektronik. Penggunaan uang elektronik yang sudah diberlakukan sejak awal JTTS difungsikan dan dioperasikan, masih belum dikenai tarif sehingga saldo tidak terpotong.
Penerapan tarif diakuinya akan menyesuaikan golongan. Berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) PUPR Nomor 305/KPTS/M Tahun 2019, tarif dikenakan Rp900 per kilometer.
Pengoperasian JTTS ruas Bakter dua pekan sebelum arus mudik Idul Fitri 1440 H/2019, juga sudah dilakukan penyiapan sejumlah rest area. Sejumlah rest area yang akan difungsikan diantaranya di Kilometer 33, Kilometer 66 dan Kilometer 116.
Fasilitas yang disediakan, di antaranya toilet portable, kantin, mushola, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mobile. Selain di ruas Bakter, sejumlah rest area di ruas Terbanggibesar-Pematang Panggang-Kayu Agung (PPKA), disediakan di Kilometer 162, 171, 207, 214, 233 dan 273.
Koordinasi operasional dan fungsional JTTS untuk angkutan Lebaran, sebut Hanung Hanindito, sudah dikoordinasikan dengan sejumlah pihak.
Operasional JTTS ruas Bakter yang sudah fixed berbayar, dari Bakauheni ke Terbanggibesar. Meski demikian, untuk fungsional jalan tol kilometer 141 hingga kilometer 238, menyesuaikan kondisi fasilitas dan penerangan lampu jalan.
Berdasarkan analiasa tim pemerintah pusat, korps lalu lintas Polri, Kilometer 141 hingga 238 hanya difungsikan saat siang hari.
Keberadaan rambu-rambu, penerangan jalan dan fasilitas rest area yang belum maksimal membuat ruas tol Terbanggibesar-Palembang diterapkan fungsional.
Fungsional tol tersebut bahkan dibatasi hanya pada siang hari, mulai pukul 06.00 hingga pukul 18.00 WIB. Tol fungsional tersebut akan diberlakukan mulai 29 Mei-10 Juni 2019 selama 13 hari, atau saat arus mudik dan arus balik.
Hanung Hanindito juga menyebut, telah berkoordinasi dengan Ditlantas Polda Lampung, Polres Lamsel, terkait pengamanan. Sebab, pergerakan dan volume kendaraan akan menimbulkan kemacetan di sejumlah pintu keluar dan masuk yang bersinggungan dengan Jalan Lintas Sumatra.
Koordinasi tersebut sudah dilakulan bersamaan dengan operasi Ketupat Krakatau 2019 oleh pihak kepolisian.
Simpul-simpul kemacetan yang potensial terjadi di pintu keluar JTTS ruas Bakter, di antaranya di wilayah Lampung Selatan dan Lampung Tengah. Titik keluar masuk jalan tol bersinggungan dengan Jalinsum, di antaranya pintu tol Bakauheni Utara, Kalianda, Sidomulyo, Lematang, Kotabaru, Natar dan Tegineneng.
Sementara di wilayah Lampung Tengah, fokus potensi kemacetan terjadi di pintu keluar dan masuk Terbanggibesar.