Harga Komoditas Pokok di Lamsel Mulai Naik
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Menjelang Ramadan, sejumlah harga bahan kebutuhan bumbu dapur di sejumlah pasar tradisional di Lampung Selatan, mulai merangkak naik.
Hesti, pedagang sayuran serta bumbu di pasar tradisional Pasuruan, Kecamatan Penengahan, menyebut kenaikan harga bumbu dapur terpengaruh bulan Ramadan yang akan segera tiba. Kenaikan sudah terjadi dari tingkat distributor, sehingga pengecer menaikkan harga.
Komoditas bumbu dapur yang mengalami kenaikan signifikan meliputi bawang merah, bawang putih, kunyit, kencur, cabai rawit serta bumbu dapur lainnya.
Menurut Hesti, bawang merah yang semula dijual Rp35.000 menjadi Rp45.000 per kilogram. Bawang putih semula Rp35.000 naik menjadi Rp50.000 per kilogram. Kunyit semula Rp20.000 naik menjadi Rp30.000. Bahkan, kencur semula seharga Rp50.000 naik menjadi Rp80.000 per kilogram.

“Harga bumbu dapur jenis kencur mengalami kenaikan yang sangat signifikan, karena pasokan dari petani terbatas. Sementara kebutuhan cukup meningkat jelang Ramadan,” terang Hesti, Kamis (25/4/2019).
Wanita yang sudah berjualan di pasar tradisional lebih dari lima tahun tersebut, mengaku kenaikan juga terjadi pada jenis komoditas lain. Cabai rawit saat ini dijual Rp30.000, dari sebelumnya Rp24.000 per kilogram.
Hesti mengatakan, di sejumlah wilayah banyak masyarakat mempergunakan momen sebelum Ramadan untuk menggelar pesta pernikahan dan khitanan. Imbasnya, permintaan bumbu untuk sejumlah kuliner melonjak.
Konsumen kerap membeli bumbu dapur dalam jumlah banyak. Jenis cabai merah, kunyit kerap dibeli lalu dihaluskan pada tempat penyedia jasa penggilingan bumbu.
Selain pesanan meningkat dari kegiatan hajatan, sejumlah pesanan juga berasal dari usaha kuliner. Maraknya usaha kuliner berkonsep serba sepuluh ribu (serbu), membuat permintaan bumbu dapur meningkat.
Astuti, salah satu pembeli, mengakui harga bawang merah dan bawang putih kerap naik sebelum Ramadan. Jenis bumbu yang dominan didatangkan dari luar daerah tersebut mengalami kenaikan hingga Rp10.000 per kilogram. Sejumlah komoditas pokok lainnya juga mulai merangkak naik.
“Sebagai solusi mengurangi pembelian bumbu, saya memilih menanam beberapa jenis tanaman bumbu di pekarangan,” cetus Astuti.
Namun di sisi lain, kenaikan harga bumbu dapur juga menjadi peluang ekonomi. Ranik, salah satu warga Penengahan, mengaku menanam berbagai jenis bumbu di pekarangan. Jenis tanaman bumbu meliputi kunyit, jahe, lengkuas, kencur serta cabai rawit.
Menurutnya, kunyit, jahe dan lengkuas kerap dibeli oleh pengepul. Selain bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sendiri, tanaman bumbu dapur miliknya bisa dijual.
”Banyaknya permintaan bumbu membuat harga naik, apalagi jelang Ramadan. Namun karena saya menanam di pekarangan, maka bisa berhemat,” beber Ranik.
Ibu rumah tangga itu mengaku justru diuntungkan dengan kenaikan harga bumbu dapur. Ia menyebut, pengepul kerap membeli bumbu dapur untuk dijual kembali. Kunyit yang kerap dipakai untuk memasak daging dijual seharga Rp12.000 per kilogram, kencur Rp20.000 per kilogram, jahe Rp5.000 per kilogram dan laos Rp4.000 per kilogram. Meski terbilang murah, permintaan rutin dari pengepul bisa menjadi sumber penghasilan tambahan baginya.
Setiap dua pekan, ia menerima pesanan 50 hingga 100 kilogram kunyit dan tanaman bumbu dapur lain. Permintaan tersebut dipenuhi dengan melakukan penanaman berselang, agar bisa dipanen setiap pengepul membutuhkan. Melalui budi daya tanaman bumbu dapur, ia bisa meraup keuntungan ratusan ribu setengah bulan sekali.
Pemanfaatan lahan terbatas untuk penanaman bumbu dapur, dilakukan juga oleh Mujiono. Ia menyebut kerap mendengar keluhan sejumlah ibu rumah tangga, terkait kenaikan harga bumbu dapur. Namun ia dan keluarganya bisa berhemat, karena bumbu dapur bisa ditanam di lahan kosong dekat sawah miliknya.
Selain bisa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, jenis bumbu dapur seperti cabai rawit, jahe, kunyit bisa dijual.
“Selain di dekat lahan sawah tanaman bumbu dapur juga bisa ditanam pada lahan pekarangan,” terang Mujiono.
Mujiono menyebut, tren kenaikan harga bumbu bisa menguntungkan bagi petani. Sebab, selama ini sejumlah komoditas bumbu dapur kerap dijual murah pada kondisi normal. Jelang Ramadan serta hari raya, kebutuhan bumbu dapur meningkat bisa memberi keuntungan bagi petani. Sebab, sejumlah tanaman bumbu dapur tidak membutuhkan perawatan yang rumit, namun masih tetap menghasilkan.