RS ANNA Bekasi Klarifikasi Tuduhan Malpraktik
Editor: Koko Triarko
BEKASI – Rumah Sakit (RS) Anna, di jalan Pekayon, Kota Bekasi, Jawa Barat, memberikan klarifikasi resmi terkait tuduhan dugaan malpraktik yang disampaikan salah satu pasien berinisial IP (30), pascaoperasi usus buntu pada Januari, lalu. Pihak RS menyangkal segala tuduhan tersebut, dengan mengatakan sudah menjalankan sesuai standar operasi rumah sakit.
“Saya menjadi dokter sepsialis bedah sudah tiga puluh tahunan, dan pasien IP, datang ke poliklinik bedah, dengan membawa hasil USG dari RS lain, yang menyatakan ia radang usus buntu,” kata dr. Bambang, di lantai V, RS Anna, Rabu (6/3/2019).

Ia menjelaskan, untuk pasien seperti IP, akan disiapkan waktu khusus dengan melakukan pemeriksaan lengkap, mulai dari jantung, darah dan alergi, dengan melibatkan dokter spesialis penyakit dalam. Setelah semua disetujui, maka dilakukan penanganan.
Diakui dr. Bambang, setelah akan dilakukan operasi, pasien IP sempat mengeluh alergi dan dikonsulkan lagi ke dokter kulit untuk mendapatkan pengobatan.
Setelah melalui prosedur, saat akan dilaksanakan operasi diakuinya memang ada ditemukan bercak merah di bagian pusar pasien, seperti alergi, dan sempat ditanyakan, tetapi pasien menjawab gatal.
“Perlu diketahui, yang saya operasi itu di perut bagian kanan, bukan bagian kiri yang dikeluhkan pasien pascaoperasi, dengan menuding terjadi malpraktik. Dan, kebetulan usus buntu itu agak lengket, karena sudah lama, maka operasi memakan waktu kurang lebih satu jam,” ungkap dr. Bambang.
Setelah selesai operasi, sambungnya, keesokan harinya ditemui di ruang perawatan, pasien memang mengeluh gatal. Dia membantah, bahwa rasa luka bakar di perut sebelah kiri pasien dampak dari operasi yang dilakukan.
Di RS ANNA, sebutnya, operasi menggunakan alat canggih, alat standar operasi rumah sakit terkareditasi, alat tersebut hanya untuk menghentikan pendarahan, dan hanya ada di tempat operasi.
“Saya tegaskan, tidak ada momen atau pun tindakan yang dilakukan selama operasi di perut bagian kiri pasien, karena usus buntu adanya di perut kanan,” tandasnya.
Ia mengaku, mengundang wartawan bukan untuk mencari menang atau kalah, melainkan klarifikasi, karena pemberitaan sudah berkembang di berbagai media dan menyudutkan dokter dan RS Anna.
Dia bersedia jika pasien melakukan proses hukum, karena itu hak setiap warga Negara.
Sementara itu, Direktur RS ANNA, dr. Robby, mengatakan pihaknya masih memiliki itikad baik dan win-win solution bagi keluarga pasien. RS, katanya, membuka pintu untuk koordinasi persuasif ke depannya. Ia menegaskan, pertemuan ini hanya sebatas klarifikasi, bukan mencari siapa menang dan kalah.
“Benar atau salah tidak penting lagi, karena sudah menyebar luas menyudutkan RS ANNA. Ini hanya bentuk klarifikasi RS, karena sudah masuk ke media persoalannya,” kata dr. Robby.
Pasien IP bersama anak dan orang tuanya, usai pihak RS menggelar konfrensi pers, datang ke rumah sakit untuk melakukan klarifikasi langsung ke manajemen RS.
Tetapi, oleh pihak rumah sakit tidak ditemui. Ia mengaku sampai sekarang belum ada keterangan resmi dari RS atas sakit seperti luka bakar di perut bagian kirinya, pascadirinya menjalani operasi usus buntu di RS ANNA awal Januari lalu.
“Pihak RS baru sekali memanggil, tetapi tidak menjelaskan kenapa sakit di perut kanannya pascaoperasi,“ tukasnya.