Normalisasi dan Kesadaran Masyarakat Mampu Tekan Banjir di Bakauheni

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Kesadaran masyarakat Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni yang didukung dengan normalisasi aliran sungai (DAS) Pegantungan oleh Dinas PUPR Lampung Selatan (Lamsel) memberikan dampak positif terhadap daerah yang pada Januari lalu diterpa banjir. Pasca pengerukan dan tidak lagi membuang sampah sembarangan, warga sekitar kembali bisa mendapatkan air bersih.

Paryatun (50) warga Pegantungan menyebutkan, sebelumnya pendangkalan sungai sepanjang lebih dari satu kilometer di sungai tersebut kerap mengakibatkan banjir. Puluhan rumah warga di bantaran sungai acap terendam banjir saat musim penghujan akibat sungai meluap.

Kesadaran masyarakat di sekitar bantaran sungai dengan tidak membuang sampah sembarangan hingga penanaman pohon membuat sungai Pegantungan kembali bersih.

Paryatun menyebutkan, warga seperti dirinya mulai melakukan penanaman bambu, manding atau petai cina, mahoni, sengon, rumput gajahan. Selain mencegah longsor juga sebagai sumber pakan untuk ternak kambing.

“Usai dilakukan normalisasi sungai Pegantungan warga tidak khawatir saat hujan deras, karena alur sungai sudah diperlebar dengan talud lebih tinggi. Air lebih lancar tidak meluap ke perkampungan warga,” terang Paryatun saat ditemui Cendana News, Rabu (27/3/2019).

Sebelum dilakukan normalisasi sungai Pegantungan,  instalasi selang air bersih sering putus akibat banjir. Selang yang ditempatkan di atas aliran sungai terseret terbawa arus.

Warga Pegantungan lainnya yang memanfaatkan belik untuk kebutuhan air bersih, Rika (50) menyebut sebelum dilakukan normalisasi sungai tersebut dangkal. Material berupa kerikil, lumpur serta batu sempat menimbun belik yang berada di aliran sungai tersebut.

Air bersih pada aliran sungai Pegantungan menjadi salah satu sumber utama warga. Selain bisa diambil menggunakan ember sebagian warga mengalirkan dengan selang.

“Sebulan terakhir meski kerap banjir akibat hujan deras namun kondisi air tetap jernih karena air langsung mengalir ke laut,” beber Rika.

Rusli memanfaatkan batu kali penyebab pendangkalan sungai Pegantungan untuk menimbun tanah becek di halaman rumah. Foto: Henk Widi
Rusli (60), warga setempat, yang ikut melakukan pengerukan sungai secara manual memanfaatkan pasir serta kerikil untuk menimbun pekarangan, jalan untuk menghindari becek saat hujan. Pemanfaatan pasir dan batu sungai menjadi cara mengurangi penyebab pendangkalan.

“Saya memanfaatkan material batu sungai untuk bahan bangunan juga sehingga pendangkalan sungai ikut berkurang,” beber Rusli.

Sungai Pegantungan selain bisa dipergunakan untuk mandi, mencuci juga bisa dimanfaatkan untuk pengairan lahan pertanian saat kemarau. Kondisi penyempitan yang terjadi selama bertahun-tahun membuat sungai tersebut tidak bisa dimanfaatkan nelayan untuk sandar perahu bagan congkel.

“Sepuluh tahun sebelumnya dengan kedalaman sungai mencapai empat meter dan lebar sungai lebih dari 15 meter bisa dipakai untuk alur masuk perahu bagan congkel,” tutupnya.

Lihat juga...