Lahan Basah Pesisir Bernilai Penting Kurangi Perubahan Iklim

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

JAKARTA — Lahan basah pesisir atau rawa pantai (coastal wetlands), menurut penelitian dinyatakan memiliki peran penting dalam mengurangi perubahan iklim.

Kasubditpro Iklim BMKG, Siswanto M. Sc – foto Ranny Supusepa

Tercatat bahwa lahan basah pesisir jika dibandingkan dengan saltmarsh atau rawa asin, mampu menyimpan dua hingga empat kali lebih banyak karbon pada sedimen di tingkat 20 cm dan lima hingga sembilan kali lebih banyak pada kedalaman sedimen 50-100 cm.

Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto M.Sc menjelaskan, lahan basah pesisir atau rawa pantai mampu menyimpan karbon dalam waktu lama dan banyak adalah karena sifat penyerap.

“Mangrove dan tanaman laut yang ada di lahan basah pesisir atau rawa pantai merupakan absorber atau penangkap karbon dari atmosfer. Sementara rawa pantai merupakan penyimpanan karbon yang efektif. Sistem ini kita kenal sebagai blue carbon meccanism atau mekanisme karbon biru pengendali emisi daerah pesisir,” kata Siswanto, Selasa (12/3/2019).

Siswanto menjelaskan yang dimaksud dengan blue carbon adalah karbon yang tersimpan di ekosistem pesisir dan laut.

“Karbon yang disimpan bisa luas dan tetap terperangkap untuk jangka waktu yang sangat lama. Bisa berabad hingga ribuan tahun,” ujar Siswanto.

Dengan menyerap dan menyimpan sejumlah besar karbon dari atmosfer dan lautan, ekosistem pesisir ini membantu mengurangi perubahan iklim.

“Di sisi lain, konversi dan degradasi ekosistem pesisir ini dapat menyebabkan pelepasan karbondioksida yang signifikan ke laut dan atmosfer. Jadi keberlangsungan ekosistem pantai dan pesisir ini menjadi vital dalam pengendalian perubahan iklim,” ungkap Siswanto.

Selain menjadi faktor penting dalam siklus karbon global, hutan bakau, rawa-rawa garam dan padang lamun memiliki nilai keanekaragaman hayati yang tinggi.

“Mereka menyediakan tempat berkembang biak dan pembibitan untuk perikanan dan ketahanan pangan bagi banyak komunitas pesisir di seluruh dunia. Mereka juga menyediakan jasa ekosistem yang penting untuk adaptasi iklim dan ketahanan di sepanjang pantai, termasuk perlindungan dari gelombang badai dan kenaikan permukaan laut, pencegahan erosi di sepanjang garis pantai dan regulasi kualitas air pantai,” papar Siswanto lebih lanjut.

Saat ini, hutan bakau dipetakan dengan cukup baik. Sebagian besar wilayah yang mengandung lamun masih belum banyak diketahui. Demikian pula perkiraan tingkat global rawa pantai atau tingkat kehilangan rawa garam menunjukkan variasi yang tinggi.

“Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa antara 1980 hingga 2005, 35.000 kilometer persegi hutan bakau telah dihilangkan secara global, yaitu sekitar sebuah wilayah seluas negara Belgia. Kondisi ini, menghasilkan emisi karbon dioksida yang signifikan secara global ke atmosfer dan laut,” kata Siswanto.

Semakin banyak bukti dan konsensus bahwa pengelolaan ekosistem Blue Carbon pesisir, melalui emisi yang dihindari, konservasi, restorasi, dan penggunaan berkelanjutan memiliki potensi kuat sebagai alat transformasi dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang efektif.

“Namun, hingga saat ini, banyak negara belum memasukkan karbon biru pesisir ke dalam portofolio mitigasi perubahan iklim atau kebijakan dan tindakan pengelolaan pesisir mereka. Untuk meningkatkan penilaian ekosistem karbon biru pesisir, IOC-UNESCO secara aktif mengambil bagian dalam Blue Carbon Initiative,” pungkas Siswanto.

Lihat juga...