Elpiji Bersubsidi Langka, Usaha Kuliner di Lamsel Kelimpungan
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Sejumlah pemilik usaha kuliner di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) mulai kelimpungan saat bahan bakar gas elpiji ukuran 3 kilogram (Kg) sulit diperoleh. Dalam satu pekan terakhir kerap habis di sejumlah pengecer.
Tari, salah satu pemilik usaha pembuatan kue tradisional menyebut untuk mencari gas elpiji bersubsidi ia bahkan harus mendatangi sejumlah pengecer di desa lain. Sulitnya mendapatkan gas, ia terpaksa harus mempergunakan bahan bakar kayu. Permintaan yang cukup banyak saat musim panen jagung sekaligus masa tanam padi diduga menjadi penyebab stok gas untuk warga miskin itu kerap habis.
Tingginya permintaan membuat sejumlah pengecer cepat diserbu oleh konsumen dengan harga mulai bervariasi. Di wilayah Desa Pasuruan,Kecamatan Penengahan dijual dengan harga Rp23.000 hingga Rp25.000 per tabung.
“Harga jua di sejumlah pengecer dalam satu pekan terakhir berbeda-beda karena stok kerap terbatas ,”terang Tari saat ditemui Cendana News, Selasa (12/3/2019).
Pemilik usaha warung makan di Jalan Lintas Timur Lampung Selatan, Sarifah mengaku sepekan terakhir sejumlah pengecer kehabisan stok. . Kebutuhan yang meningkat membuat ia harus membeli langsung ke pangkalan gas yang tengah membongkar dari agen Pertamina. Cara tersebut dilakukan agar usaha kuliner soto ayam, pecel, karedok serta gorengan tetap berjalan.
“Saya memiliki dua tabung gas melon total keduanya bisa dipergunakan selama satu bulan tergantung pemakaian,” beber Sarifah.
Kelimpungan akibat gas elpiji ukuran 3 Kg yang kerap habis di sejumlah pengecer, pemilik usaha kuliner lain. Anisa memilih memakai tabung gas elpiji ukuran 5,5 kilogram. Meski harga lebih mahal, Rp75.000 per tabung, namun untuk pemakaian biasa bisa dipergunakan untuk satu bulan lebih.
“Harga tabung gas elpiji melon yang kerap langka membuat saya terpaksa memakai tabung nonsubsidi,” papar Anisa.
Yuni, pemilik warung makan serba sepuluh ribu (Serbu) di Jalan Lintas Sumatera menyebutkan, ada sekitar tiga pangkalan gas elpiji bersubsidi dan nonsubsidi termasuk di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Namun distribusi yang kerap terlambat dan pengecer yang kehabisan stok membuat ia kerap sulit memperoleh gas ukuran 3 kilogram. Solusi yang dilakukan diakuinya untuk proses memasak nasi, sayur dilakukan dengan tungku kayu.
“Gas melon kami gunakan hanya untuk memanaskan sayur sehingga memperlambat habisnya gas melon yang biasanya lima hari bisa selama dua pekan,” beber Yuni.