Konstruksi Bronjong Perkuat Tanggul Penangkis Sungai Way Pisang
Editor: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Jebolnya tanggul penangkis Sungai Way Pisang selama tiga kali berturut-turut pada tahun 2018 dan satu kali pada 2019 membuat perbaikan dilakukan secara menyeluruh.
Tanggul penangkis sungai Way Pisang di Dusun Lebung Larangan, Desa Sukaraja, Lampung Selatan (Lamsel) yang kembali jebol pada awal Februari, berimbas ratusan hektare lahan pertanian sawah terendam.
Ibrohim, salah satu pekerja konstruksi tanggul penangkis menyebut, bronjong dipasang pada tanggul dengan sistem bersusun, tepat di dekat saluran air yang jebol.
Perbaikan tanggul penangkis dengan sistem bronjong tepat berada di dekat jembatan Way Pisang, penghubung Desa Sukaraja dan Desa Pematang Baru di Kecamatan Sragi. Perbaikan tanggul penangkis disebutnya dilakukan secara bertahap oleh Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji dan Sekampung (BBWSMS) Lampung.
Pada perbaikan tahap pertama sudah dilakukan pekan pertama bulan Maret dengan peninggian tanggul memakai material tanah memanfaatkan eskavator.

Peninggian tanggul menggunakan tanah yang didatangkan dari Desa Pematang Baru, disebut Ibrohim memiliki ketinggian sama dengan tanggul lama.
Setelah proses perbaikan tanggul penangkis sepanjang 15 meter pada pekan ketiga bulan Maret, pembuatan bronjong dilakukan.
Pada bagian tanggul yang akan dibronjong ia menyebut, dibuat dengan sistem berundak. Kondisi serupa juga telah dikerjakan pada tanggul sebelah timur tepat di Desa Pematang Baru yang sudah aman dari risiko tanggul jebol.
“Tanggul yang jebol lebih dari empat kali dalam kurun waktu enam bulan membuat petani meminta instansi terkait melakukan penguatan tanggul penangkis memakai bronjong kawat diisi batu agar konstruksi lebih kokoh terutama menghindari jebol kembali, jika hujan deras disertai banjir,” terang Ibrohim, saat ditemui Cendana News di tanggul penangkis Way Pisang, Sabtu (23/3/2019).
Sebanyak 100 bronjong dengan ukuran masing-masing panjang 200 cm dan lebar 60 cm akan dipasang pada lokasi yang rawan jebol. Hingga akhir pekan ia menyebut, pekerja telah memasang sekitar 30 bronjong yang dipasang secara berundak.
Setiap satu bronjong berbentuk persegi panjang tersebut dirangkai dengan bronjong lain selanjutnya diisi memakai batu belah untuk memperkuat konstruksi. Bronjong yang dibuat merupakan anyaman kawat baja setelah dirangkai diisi batu mencegah longsor pada tepi sungai.
Memasuki hari ketiga setelah pekerjaan dimulai pada Kamis (21/3) Ibrohim menyebut pekerjaan pembuatan bronjong dilakukan secara bertahap. Ia menyebut, ditargetkan proses pembuatan bronjong akan selesai pekan depan tergantung kondisi cuaca.
Proses pembuatan bronjong sebanyak empat tingkat dengan panjang lebih dari 10 meter tersebut diakui Ibrohim dikerjakan oleh sekitar 6 orang. Sejumlah pekerja bertugas menganyam bronjong yang belum dirangkai sebagian memasang bronjong di atas tanggul.
Setelah konstruksi bronjong selesai dibuat ia berharap, bisa melindungi struktur tanah pada tanggul penangkis sungai Way Pisang. Musim hujan yang masih kerap terjadi di wilayah Lamsel sekaligus air kiriman dari sungai Tuba Mati, sungai Way Asahan, sungai Way Kuripan dan mengalir ke Way Pisang, membuat air kerap meluap ke lahan pertanian.
Sebagian lahan pertanian yang rusak akibat luapan sungai Way Pisang bahkan masih dibiarkan rusak. Selain itu talud penguat dan aspal jalan penghubung kecamatan Palas dan Sragi masih dibiarkan terkelupas.
Sutono, pemilik lahan sawah di Desa Pematang Baru, Kecamatan Sragi berharap tanggul penangkis yang diperbaiki akan kuat dengan sistem bronjong. Perbaikan sebelumnya yang hanya diperkuat dengan memakai konstruksi tanah berimbas saat banjir luapan sungai Way Pisang sejumlah lahan pertanian sawah rusak.
Sejumlah petani seperti dirinya yang menanam padi varietas Muncul Cilamaya bahkan terpaksa melakukan proses penanaman ulang dan penyulaman bibit baru.

“Usulan agar tanggul penangkis dibronjong sudah disampaikan petani, namun perbaikan hanya dilakukan menggunakan tanah imbasnya tanggul kembali jebol,” terang Sutono.
Sutono menyebut, akibat luapan sungai Way Pisang sejumlah petani pemilik lahan sawah juga harus melakukan pemupukan ulang. Pasalnya saat terjadi luapan sungai Way Pisang pupuk yang sudah ditebar hanyut.
Sebagian tanaman padi yang rusak akibat terendam banjir dan mulai pulih harus diganti dengan benih padi yang memiliki umur sama. Cara tersebut dilakukan untuk memulihkan tanaman padi yang rusak akibat banjir.
Usai banjir luapan sungai Way Pisang ia menyebut, hama keong mas menjadi hama yang menyerang termasuk tikus.