Kerugian Akibat Hama Tikus di Sleman Capai Puluhan Juta per Hektare

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

YOGYAKARTA — Upaya mengatasi hama tikus yang telah endemik, pemerintah DIY melalui dinas terkait menggalakkan gerakan Gropyokan Tikus, tepatnya di kawasan lahan pertanian Kedungbanteng Sumberagung Moyudan Sleman.

Kegiatan ini diikuti ratusan petani, anggota TNI, mahasiswa Polbangtan, hingga unsur pemerintah baik Dinas Pertanian, Balai Karantina hingga BPTP Yogyakarta. Gropyokan ini bertujuan untuk menekan populasi tikus sedini mungkin saat masa persiapan tanam.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Sasongko menyebutkan, kegiatan akan terus digelar dan berkelanjutan sejak awal Maret ini hingga April mendatang. Hal itu dilakukan agar puluhan hektare lahan pertanian yang selama ini terbengkalai bisa kembali ditanam.

“Kerugian akibat hama tikus ini cukup besar. Satu hektar lahan mestinya bisa menghasilkan 7 ton gabah. Padahal luas lahan disini mencapai 70 hektare dengan 3 kali masa tanam selama setahun. Jika harga gabah Rp4.000 per kilo, sudah berapa saja nilai kerugiannya, tinggal dikalikan” katanya.

Selain melakukan gropyokan, Dinas Pertanian sendiri rencananya juga akan melakukan sejumlah upaya pengendalian hama terpadu. Mulai dari penanaman serempak, pemasangan Traping Barier System (TBS), pengemposan lubang aktif selama periode tanam, hingga pemanfaatan predator alami tikus berupa burung hantu atau Tyto Alba.

“Pemerintah juga akan siapkan bibit untuk petani. Karena mayoritas disini adalah penggarap yang minim modal. Pengolahan tanah juga akan kita bantu, nanti akan disiapkan alsintan seprti traktor. Minggu ini mudah-mudahan sudah bisa dimulai,” katanya.

Hama Tikus
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Sasongko. Foto: Jatmika H Kusmargana
Sementara itu peneliti BPTP Balitbangtan Yogyakarta, Arlyna Budi Pustika menyebutkan, tikus merupakan hama pertanian yang sangat cepat perkembangannya dan cukup sukit diberantas. Pasalnya satu pasang tikus pada awal tanam mampu menghasilkan anak sebanyak 80 ekor saat musim panen.

“Sehingga jika ada 100 ekor tikus betina saja di awal tanam dan tidak dikendalikan, maka saat panen berpotensi terdapat 8.000 populasi tikus di satu kawasan,” ujarnya.

Kepala Balai Proteksi Tanaman Pertanian, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Maman Suherman sendiri menyebut pemerintah memberikan intensif bagi para kelompok tani yang mampu membunuh tikus selama kegiatan gropyokan.

“Satu ekor tikus kita hargai Rp3.000. Dananya nanti dari pemerintah. Bisa APBD kabupaten, propinsi atau pusat. Agar petani punya greget dan semangat menangkap hama tikus. Dana ini nanti akan diberikan untuk kelompok tani sebagai biaya operasional kelompok tani,” katanya.

Lihat juga...