Gurih Manis Sengkulun, Kue Tradisional Perekat Kebersamaan

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Salah satu kue favorit yang kerap disajikan oleh sejumlah ibu rumah tangga di Lampung Selatan (Lamsel) adalah kue sengkulun.

Lestari (40), salah satu pedagang keliling kue basah tradisional menyebut, kue sengkulun merupakan kue berbahan dasar beras ketan. Memiliki warna menarik ,aroma wangi sekaligus rasa gurih dan manis membuat kue sengkulun disukai berbagai kalangan.

Selain disajikan sebagai menu pengganti sarapan, sengkulun juga kerap menjadi alternatif hidangan saat arisan atau pertemuan keluarga.

Sebagai pedagang kue basah keliling, Lestari mengaku, kerap menjual sengkulun bersama dengan kue basah lain di antaranya lumpia, lemper, arem-arem, bubur serta kue tradisional lain. Satu hari ia menyebut, menjual sekitar 100 buah sengkulun sebagai pelengkap kue lain.

Meski kue sengkulun bisa dibuat dengan berbagai variasi serta bahan di antaranya singkong, ketan hitam, Lestari membuat dari beras ketan putih serta bahan kelapa yang bisa diperoleh dari kebun miliknya.

Bahan yang dipersiapkan untuk membuat kue sengkulun menurut Lestari, sesuai dengan resep sengkulun khas Purworejo, Jawa Tengah. Sebab Lestari mengaku, kue sengkulun memiliki sebutan yang berbeda di setiap daerah.

Bagi masyarakat Palembang, kue sengkulun kerap disebut jando beras serta sangkolun di daerah Bangka. Bagi masyarakat Jawa kue ini kerap disebut awug ketan, gapuk ampak. Meski berbeda penyebutan, kue sengkulun memiliki bahan dasar dan pembuatan sama dengan varian tambahan sesuai selera pembuat.

Lestari, salah satu pedagang jajanan kue basah keliling, kue sengkulun. Menjadi salah satu kue favorit untuk teman minum teh – Foto: Henk Widi

“Saya membuat kue sengkulun sejak Subuh serta kue-kue tradisional lain untuk dijual keliling. Kue sengkulun kerap banyak diminati oleh sejumlah rumah tangga saat pagi hari. Pelengkap sarapan sebagai teman minum teh atau kopi,” beber Lestari, salah satu pedagang kue tradisional sengkulun, saat ditemui Cendana News di Kecamatan Penengahan, Sabtu (23/3/2019).

Sebelum membuat kue sengkulun, bahan utama yang diperlukan disebut Lestari, berupa setengah kilogram tepung beras ketan putih. Selain itu, sejumlah bahan lain yang diperlukan di antaranya gula pasir, kelapa parut, garam, vanili serta sedikit minyak goreng untuk pengoles cetakan.

Sebagai pewarna alami ia mempergunakan daun pandan untuk warna hijau. Jika tidak memiliki tanaman pandan, pewangi sekaligus pewarna bisa menggunakan pasta pandan botolan.

Setelah semua bahan siap, campurkan tepung ketan, kelapa parut, gula pasir, vanili bubuk serta garam diaduk hingga merata. Selanjutnya bahan dibuat menjadi adonan hingga merata dan kalis. Adonan yang sudah jadi bisa dipisahkan menjadi dua bagian untuk adonan warna putih.

Sebagian adonan diberi warna hijau mempergunakan pasta atau perasan daun pandan hingga merata berwarna hijau. Proses mengadon semua bahan, disebut Lestari kerap mempergunakan mesin mixer atau pencampur untuk mempercepat pengadonan.

Sembari menyiapkan adonan, Lestari menyebut, menyiapkan loyang yang dialasi dengan daun pisang serta diolesi minyak goreng. Adonan berwarna putih yang sudah masuk dalam loyang dikukus selama 15 menit untuk melayukan bagian bawah.

Selanjutnya saat masih berada dalam loyang adonan yang diberi pewarna hijau dituangkan ke cetakan sehingga membentuk lapisan warna putih dan hijau. Pada sela-sela lapisan diberi variasi parutan kelapa yang sudah tercampur garam.

“Parutan kelapa bisa juga ditaburkan pada adonan tapi juga bisa diberikan saat sengkulun sudah jadi sebagai penambah sensasi rasa gurih,” beber Lestari.

Usai kue sengkulun selesai dicetak pada loyang beralaskan daun pisang, setelah matang kue sengkulun bisa diangkat. Lestari mengaku, menggunakan cetakan ukuran kecil sehingga kue sengkulun yang dihasilkan berbentuk seperti bunga mawar.

Cetakan berbentuk bunga mawar tersebut sekaligus varian bentuk kue sengkulun. Pasalnya kue sengkulun juga bisa dibuat berbentuk kotak sebagai variasi pembuatan sengkulun.

Setelah kue sengkulun selesai dibuat, Lestari menjual kue tersebut bersama kue lain. Ia berkeliling berjualan kue sengkulun dari desa ke desa yang ada di wilayah Penengahan. Selain sejumlah sekolah dan rumah ia juga kerap menitipkan kue sengkulun ke warung lain yang tidak sempat membuat kue sengkulun.

Rupiani (38) salah satu pedagang kue di Rajabasa menyebut, ia tidak membuat kue sengkulun namun kerap dikirim oleh Lestari.

“Penambahan kue yang dijual bisa menjadi variasi untuk kue tradisional yang saya jual saat sarapan pagi,” beber Rupiani.

Kegiatan pertemuan arisan dengan beragam sajian kue tradisional salah satunya sengkulun – Foto: Henk Widi

Selain dibuat oleh pedagang kue, Nurhayati (38) salah satu ibu rumah tangga juga mengaku, kerap membuat kue sengkulun untuk acara arisan. Kue sengkulun berbahan ketan yang mudah dibuat tersebut bisa menjadi varian hidangan.

Selain menarik dengan warna hijau ia juga kerap menambahkan warna merah sehingga sengkulun memiliki warna beragam. Meski sebagai kue tradisional kue sengkulun disebutnya menjadi perekat kebersamaan antartetangga.

Sembari melakukan kegiatan arisan kue sengkulun bisa dinikmati oleh anak-anak yang diajak.

Lihat juga...