Desa Singakerta Gianyar Lakukan Pawai Ogoh-Ogoh Lebih Awal

Editor: Mahadeva

GIANYAR – Berbeda dengan daerah lain di Bali, Desa Singakerta Kecamatan Ubud, memilih menggelar pawai ogoh-ogoh lebih awal.

Perbekel Singakerta, I Ketut Murja, seusai pembukaan pawai di Areal Pasar Seni II Ubud, menjelaskan, pawai diikuti 10 banjar dilaksanakan sebelum Pengerupukan. Hal itu untuk menghindari padatnya kegiatan masyarakat di rangkaian Hari Raya Nyepi.

Parade ogoh-ogoh digelar mendahului hampir sepekan dari Nyepi, juga untuk menghindari terjadinya gesekan. Biasanya saat Pengerupukan, warga masih melaksanakan rangkaian Melasti dan warga sangat kelelahan. Sementara warga masih harus mengarak ogoh-ogoh pada malam harinya. Sepuluh sekaa teruna dari 14 sekaa teruna atau banjar se-Desa Pakraman Singakerta, sudah menyiapkan pawai sebulan sebelumnya. Bahkan, ada yang sudah menyiapkan fragmen tari sejak dua bulan lalu.

Pawai sebelum Pengerupukan digelar kedua kalinya. Pertama dilaksanakan saat Nyepi Tahun Baru Saka 1940 setahun lalu. Sedangkan tahun-tahun sebelumnya, pengarakan ogoh-ogoh selalu dilaksanakan saat malam Pengerupukan Nyepi atau sehari sebelum Nyepi Tahun Baru Saka.

“Pawai dilaksanakan atas hasil evaluasi pelaksanaan sebelumnya, dimana pawai sebelum Pengerupukan lebih baik dilaksanakan, dibandingkan dengan saat pengrupukan,” ucap Ketut Murja saat ditemui di Banjar Jukut Paku, Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, Sabtu (2/3/2019).

Acara pawai dibuka langsung Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gede Mayun. Dalam pelaksanaannya, peserta masing-masing banjar diberikan kesempatan menunjukkan atraksi selama 20 menit di depan panggung. Selanjutnya, ogoh-ogoh dibawa kembali ke banjar masing-masing. Jika memungkinkan akan diarak di banjar bersangkutan saat Pengerupukan, itupun jika masih memungkinkan.

Parade digelar mulai sore pukul 16.00 Wita, hingga pukul 22.00 Wita. Penonton dan warga sekitar sangat antusias menyaksikan kebolehan masing-masing banjar. Parade kali ini diikuti 10 ogoh-ogoh dari 10 banjar se-Desa Singakerta. Sebetulnya, ada 14 banjar di Desa Singakerta. Namun, empat banjar memutuskan tidak ikut parade dengan alasan waktunya benturan dengan piodalan di Pura Melanting banjarnya dan ada upacara lain.

Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gede Mayun saat membuka pawai ogoh-ogoh di Banjar Jukut Paku, Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, Sabtu (2/3/2019).-Foto: Sultan Anshori.

Peserta pertama, Banjar Batuh membawakan garapan yang berjudul Rahwana Pralaya. Kemudian Banjar Kengetan, dengan garapan Sanghyang Sarasija Maya Hireng, Banjar Dangin Labak dengan Garapan Karang Enjung, Banjar Tebongkang dengan garapan Kidung Tanpa Tulis.

Kemudian Banjar Katik Lantang, dengan garapan Dalem Balingkang, Banjar Jukut Paku dengan garapan Jukut Paku Maha Santhi, Banjar Tunon dengan Garapan Sura Bhuta, Banjar Demayu Buduk dengan garapan Menyerahnya Ki Pasek Badak, Banjar Lodtunduh dengan garapan Nangluk Merana dan terakhir Banjar Dauh Labak dengan garapan I Butha Nawa Gempang.

“Saat parade ogoh-ogoh rangkaian Nyepi Tahun Baru Saka 1940 setahun lalu, sekaa teruna masing-masing banjar diberi bantuan sebesar Rp7,5 juta. Sedangkan untuk parade ogoh-ogoh tahun ini, sekaa teruna masing-masing banjar dibantu sebesar Rp15 juta. “Bantuan diambilkan dari APBDes dan bantuan Bupati Gianyar,” papar Murja.

Wakil Bupati Gianyar, AA Gde Mayun mengapresiasi pelaksanaan Pawai Ogoh-ogoh di Desa Singakerta yang dilaksanakan sebelum Pengerupukan. Kreativitas budaya dan seni masing-masing sekaa teruna menjadi bisa ditampilkan optimal.

Sehingga pada saat perayaan rangkaian Nyepi Tahun Baru Saka 1941, warga lebih fokus melaksanakan yadnya. “Pawai semacam ini diharapkan bisa terus berlanjut dan memajukan Gianyar dalam seni budaya,” pungkasnya.

Lihat juga...