Deri Mulyadi, Dokter Spesialis Pemilik Gelar Doktor Ilmu Hukum
Editor: Mahadeva
PADANG – Seorang dokter spesialis, yang bekerja di RSUD Raden Mattaher Jambi, berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat. Dokter yang dimaksud ialah H. Dr. dr. Deri Mulyadi, SH, MH, Kes, Sp.OT. Deri adalah seorang dokter spesialis, yang lahir di Kota Padang pada 24 Mei 1971.

Sabtu (9/3/2019) Deri menjalani sidang Ujian Terbuka Program Ilmu Doktor di Gedung Pascasarjana Fakultas Hukum Unand. Deri dinyatakan lulus dengan predikat nilai A sangat memuaskan di tanah kelahirannya. Dan berhak meraih gelar doktor, oleh tim penguji.
Dokter empat orang anak tersebut, melakukan perjalanan pendidikan yang cukup panjang. Bahkan bisa dikatakan hidupnya terbilang tidak normal, jika dilihat dari sisi aktivitas dan tanggungjawabnya menyelesaikan pendidikan yang diemban. Riwayat pendidikan Deri, sebelum sampai meraih gelar doktor ilmu hukum, tidak hanya satu keilmuan saja yang dipelajari. Untuk gelar sarjana strata satu, diperoleh Deri di Fakultas Kedokteran Unand. Bersamaan dengan pendidikan tersebut, ia juga kuliah di Fakultas Hukum Universitas Eka Sakti Padang.
Gelar MA, diperoleh Deri di Semarang. Pendidikan Magister Hukum Kesehatan dijalani di Universitas Katolik Soegiapranata Semarang. Selanjutnya ke Magister Kesehatan Fakultas Kedokteran Unand Padang. Ditambah lagi mempelajari Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung.
Kini setelah berupaya menyelesaikan disertasi doktor dengan judul, Penyelesaian Kasus Kelalaian Medik Melalui Litigasi dan Non Litigasi di Indonesia, Deri berhak menyandang gelar doktor ilmu hukum. Jenjang pendidikan yang dilalui begitu rumit. Ada dua keilmuan yang dipelajari di waktu bersamaan, satu tentang kesehatan dan satu tentang hukum. Deri mengaku memang ada kebingungan, jika disuatu tempat harus disamakan keilmuannya.
Namun baginya, dokter adalah profesi yang secara rutinitas harus dijalaninya di Provinsi Jambi. “Bagi saya, siapapun bisa melakukan hal yang sama, dan kini saya diberi rezeki untuk menjalani pendidikan ini. Semoga bisa membantu orang banyak,” katanya.
Alasan memilih dua pendidikan keilmuan, karena keseharian menangani beragam pasien, terutama untuk spesialis bedah. Kegiatan tersebut, tidak bisa terlepas dari persoalan kalalaian medis. Namun, jika seorang dokter memiliki keilmuan di bidang hukum, setidaknya dapat memberikan pemahaman hukum yang berhubungan dengan dunia kesehatan.
“Ada yang melihat ketidakadilan yang dialami oleh pasien, terkadang ada kelalaian medis malah ujung-ujungnya damai, sementara posisinya merugikan pasien, ya, seperti malapraktik. Jadi sebenarnya tidak semua kalalaian tentang medis itu yang perlu didamaikan. Jika salah, bisa berurusan dengan hukum,” tandasnya.
Terkait dengan jenjang pendidikan yang dijalani, Deri didukung penuh oleh keluarga. Meski harus terbang dari Jambi ke Padang, dan dilanjutkan ke Jakarta. Semua itu dilakukan, untuk membantu keluarga dan banyak orang. Kesibukan antara pekerjaan dengan tuntutan di jenjang pendidikan, dan harus meninggalkan keluarga, bukan berarti Dia harus mengesampingkan kewajiban sebagai seorang kepala keluarga.
“Saya memiliki prinsip, jika saya diberi rezeki dalam persoalan pendidikan. Maka keluarga saya-pun saya harapkan kepada Allah agar diberi perlindungan dan kesehatan, ketika saya jauh dari mereka,” sebutnya.
Bagi Deri hal yang perlu dipahami dalam mencapai pendidikan ialah, semakin banyak yang kamu baca, semakin banyak yang kamu tahu. Semakin banyak kamu tahu, akan semakin sering kamu belajar. Semakin banyak belajar akan semakin berilmu.
Prof. Elwi Daniel, promotor Dr. Deri Mulyadi mengatakan, adanya kelulusan ilmu hukum di Unand Padang, menjadikan Deri doktor ke-54 yang diluluskan kampus tersebut. Tapi hal yang dilakukan oleh Deri terbilang hal yang menarik dipahami, dan bisa menjadi inspirasi banyak orang.
“Saya melihat, mengaji persoalan hukum di ilmu kesehatan adalah hal yang bagus. Karena dalam dunia kesehatan ada beberapa hal yang berhubungan dengan hukum. Jadi sebaiknya banyak orang bisa mengikuti jejak Dr. Deri,” ujarnya.
Menurutnya apa yang telah dilakukan oleh Dr. Deri bisa menginspirasi banyak orang. Persoalan waktu dan jarak bukanlah jadi penghalang. Asalkan ada kemauan untuk menjalankan, maka akan ada kemudahan dalam menggapai pendidikan yang lebih tinggi. “Saya sempat candai dia, saya mau panggil apa ya, dokter apa doktor ya? Pokoknya sama-sama menjaga almamater saja,” ucapnya sembari tersenyum.