2.282 Kasus DBD Terjadi di Ibu Kota
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Dinas Kesehatan DKI Jakarta, mencatat, hingga Sabtu (2/3), tercatat 2.282 kasus demam berdarah Dengue (DBD) terjadi di Ibu Kota. Sebanyak 84 Rukun Warga (RW) di DKI, rawan terjangkit DBD pada tahun ini. Seperti di Jakarta Barat, menjadi wilayah yang paling banyak masuk kategori RW rawan.
“Jakarta Pusat ada 3 RW rawan, Jakarta Utara ada 7 RW rawan, yang paling banyak Jakarta Barat 38 RW rawan. Selatan ada 11 RW rawan, dan Timur 25 RW rawan. Semua kita perhatikan. Tapi, kita fokus juga untuk lebih intens kepada RW rawan. RW rawan ini kita update setiap seminggu sekali,” ujar Widyastuti, Kepala Dinkes DKI, di kantornya, Petojo, Jakarta Pusat, Senin (4/3/2019).
Sementara untuk kecamatan, Widyastuti menyebutkan ada lima masuk wilayah rawan dilihat dari kejadian atau incidence rate (IR), yang dihitung kejadian per 100.000 penduduk.
“Tiga kota ini memang ganti-gantian (IR tertinggi) tiap minggunya, tiga-tiganya itu hampir seimbang. Jadi, antara Selatan, Timur, dan Barat, itu naik turunnya (penderita DBD) hampir sama,” ucap Widyastuti.
Tingkat kerawanan DBD, katanya, diukur melalui tiga kali tahapan inkubasi. Jika selama inkubasi ditemukan lebih dari tiga kasus demam tinggi dalam rentang 5-7 hari, maka itu masuk kategori rawan.
“Kita tahu, bahwa inkubasi demam tinggi ini adalah 5-7 hari. Jadi, jika 3 kali inkubasi dia lebih dari 3, berarti memang di situ potensi ada jentik dan ada virus,” jelasnya.
Kemudian untuk tingkat kecamatan, berdasarkan IR per 3 Maret 2019, terdapat lima kecamatan paling rawan terkena DBD.
“Per tanggal 3 Maret 2019 jam 17.00 WIB, paling tinggi IR-nya ada di Kalideres. Kemudian Pasar Rebo, Cipayung, Matraman, serta Jagakarsa,” bebernya.
Dia membandingkan pada bulan sebelumnya, Januari dan Februari, terjadi peningkatan jumlah kasus DBD yang menyerang masyarakat di lima wilayah Jakarta. Pada Januari jumlah kasus DBD sebanyak 989, sedangkan untuk Februari sebanyak 1.354 kasus.
“Kasus secara umum tadi saya sampaikan bulan Januari 989, Februari 1.354, artinya memang terjadi kenaikan,” ucapnya.
Widyastuti mengatakan, angka tersebut belum dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD, meski angkanya sudah di atas rata-rata. Namun untuk menetapkannya sebagai KLB, angka itu masih jauh.
“Tapi kita waspada terus, jangan tembus menjadi sesuatu yang luar biasa,” ujarnya.
Selain memperketat wilayah pengawasan, upaya preventif lain yang dilakukan akan penguatan regulasi. Pengendalian, antara lain dilakukan melalui kebijakan, yakni Perda Nomor 6 tahun 2007, tentang pengendalian DBD, dan Instruksi Gubernur Nomor 7 Tahun 2019, tentang Penanganan Peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue.
Upaya lain adalah ketat melalui system surveilans DBD berbasis Web sejak 2005, dengan melibatkan 160 Rumah Sakit dan Puskesmas di seluruh DKI Jakarta, sehingga dapat mempercepat Informasi untuk pemutusan mata rantai penularan berdasarkan nama dan alamat. Dia juga menjelaskan, total KLB ditinjau dari data per lima tahun.
Dia menjelaskan Penyakit DBD sendiri adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang menginfeksi bagian tubuh dan sistem peredaran darah manusia, ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepty yang terinfeksi.
Kemudian gejala penyakit ini biasanya diawali dengan demam, nyeri otot dan sendi, terdapat bintik merah atau ruam di kulit, disertai mual dan nyeri ulu hati, pada kasus yang parah dapat terjadi pendarahan dan syok yang membahayakan.
“Ada beberapa temuan. Salah satunya adalah banyaknya lahan kosong yang berpotensi menjadi tempat pertumbuhan nyamuk. Pak Wali Kota mengerahkan tim kelurahan PPSU, untuk bersama-sama dengan warga dan kader jumantik memastikan lahan kosong bebas dari genangan air dan perindukannya,” tuturnya.
Sementara itu, Wali Kota Jakarta Barat, Rustam Efendi, menyebutkan, upaya penurunan rawan DBD terus dilakukan di wilayahnya, salah satunya dengan menyebar Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dan mensosialisasikan pencegahan ke sejumlah masyarakat.
Mengutip ucapan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, kata Rustam, pihaknya telah meminta kepada masyarakat yang mengalami gejala DBD, yakni demam mendadak selama sepekan, untuk memeriksakan diri ke rumah sakit.
“Gubernur sudah menegaskan, pengobatan akan dilakukan gratis bila terkena DBD,” ucapnya, saat dihubungi wartawan.
Selain itu, untuk fokus kegiatan, pihaknya melibatkan satu rumah untuk satu jumantik. Pemberantasan sarang nyamuk dan fogging juga gencar dilakukan di beberapa lokasi. Kemudian melalui lurah dan camat, Rustam meminta saluran air yang menjadi tempat sarang nyamuk terus diawasi. Pembenahan saluran juga dilakukan agar tidak menjadi lokasi sarang nyamuk.
“Saya telah meminta, agar lurah dan camat awasi lingkungan. Ketika ada warga demam, datangi rumahnya minta dicek dan kawal dia sampai benar-benar dirawat,” tutup Rustam.