Sinergi Lintas Unsur Bangkitkan Pariwisata Rajabasa
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Upaya pemulihan sektor pariwisata bahari usai bencana tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12/20180, terus dilakukan oleh pelaku usaha wisata di pesisir Rajabasa, Lampung Selatan.
Marjuki, salah satu tokoh masyarakat di Dusun Merak yang memiliki andalan pariwisata pantai Merak Kunjir, menyebut, tsunami merusak sejumlah fasilitas usaha kuliner berupa puluhan saung hancur, bentang alam pantai berubah, terutama terumbu karang, dan pasir putih yang rusak akibat terjangan gelombang.

Upaya membangkitkan sektor wisata dilakukan secara swadaya oleh unsur masyarakat di wilayah tersebut. Marjuki dan sejumlah warga yang sempat tinggal di pengungsian, mulai bosan dan sepakat menghidupkan sektor wisata di wilayah tersebut.
Berbekal keinginan dan kerja keras, sejak awal Februari, upaya swadaya unsur tokoh masyarakat dan pemuda yang tergabung dalam kelompok sadar wisata (Pokdarwis) mulai berbenah.
Menurut Marjuki, pembenahan dilakukan dengan membersihkan pantai, membuat saung artistik sementara, warung kuliner,kamar mandi serta toilet bagi pengunjung.
Sejumlah fasilitas tersebut dibuat dengan bahan seadanya, seperti bambu serta kayu. Geliat dan gairah sektor pariwisata pun mulai terlihat, dengan pulihnya sektor pariwisata bahari di pantai Merak Kunjir. Sejumlah usaha kuliner mulai beroperasi kembali dengan adanya dukungan dari dinas pariwisata dan unsur lain.
“Awalnya, secara swadaya masyarakat melakukan pembenahan untuk bisa menghidupkan kembali sektor wisata bahari dan dukungan diberikan dari unsur pegiat wisata, instansi terkait, agar masyarakat bisa kembali bangkit,” terang Marjuki, saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (17/2/2019).
Marjuki juga menyebut, sebagai upaya menghidupkan sektor wisata bahari, dukungan dari Pokdarwis lain juga diberikan dengan meminjamkan fasilitas wahana kano.
Kano yang merupakan milik Pokdarwis Ragom Helau Desa Toto Harjo, Kecamatan Bakauheni, kata Marjuki, menjadi pemantik bangkitnya pariwisata bahari di pantai tersebut.

Selain kano, bantuan berupa enam peralatan penyelaman dangkal atau snorkeling dihibahkan oleh Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan.
Imbasnya, sejumlah masyarakat yang ingin kembali menikmati suasana pantai Merak Kunjir, dilengkapi dengan fasilitas memadai. Sejumlah peralatan yang sudah disediakan, di antaranya perahu dayung untuk berkeliling pantai, hammock untuk bersantai, tenda serta sejumlah peralatan lain yang akan terus dilengkapi.
Pembuatan kursi duduk di sepanjang talud penahan gelombang bahkan dibuat oleh pemuda anggota Pokdarwis, sebagian dibuat dari pecahan kayu perahu yang rusak, bambu dan kayu bekas yang dibuat artisitik namun fungsional.
“Bangkitnya sektor pariwisata memiliki efek lain, yaitu masyarakat bisa kembali memiliki sumber penghasilan melalui usaha berdagang dan jasa pariwisata,” beber Marjuki.
Dukungan kepada pelaku usaha wisata juga diberikan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Selatan.
Saifuddin Djamilus, Kepala Bidang Pengembangan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamsel, menyebut fasilitasi dilakukan dengan melibatkan Kementerian Pariwisata.
Puluhan pelaku usaha pariwisata terdampak, terutama Usaha Kecil Menengah (UKM) diberi kemudahan untuk kembali mendapatkan permodalan. Kegiatan bertajuk forum group discussion (FGD) pada awal Februari lalu, disebutnya membantu pelaku usaha pariwisata bangkit.
“Para pelaku usaha mendapat keringanan, karena tidak adanya agunan pascatsunami, dan difasilitasi untuk mendapatkan kucuran dana dari sektor perbankan dengan bunga rendah,” terang Syaifuddin Djamilus.
Selain bantuan permodalan melalui sektor perbankan dengan mekanisme yang lebih mudah, pelaku usaha pariwisata juga diberi pelatihan.

Pelatihan tersebut berupa peningkatan kemampuan untuk mengakses informasi pasar, teknologi serta peningkatan sumber daya. Sebab, sektor pariwisata saat ini sudah sangat bergantung dengan peranan teknologi, baik dari sisi promosi hingga kemudahan akses dalam menjangkau lokasi.
Pembenahan homestay dengan penataan berbasis lingkungan, sekaligus menjadi cara menghidupkan sektor wisata bahari usai tsunami.
Yodistira Nugraha, pegiat wisata dengan komunitas Peduli Wisata (Pelita) yang dikelolanya, mengaku bangkitnya sektor pariwisata bahari butuh proses panjang.
Kemauan dari pelaku usaha untuk bangkit, dukungan unsur lain ikut mendorong beraktivitasnya usaha pariwisata. Melalui komunitas Pelita dan Sakai Sambaiyan, Yodis mulai menggalang dana untuk memberi permodalan bagi pelaku usaha pariwisata.
Permodalan tersebut berupa fasilitas, peralatan serta ide, sehingga usaha pariwisata kembali bergairah.

Yodis melalui komunitas Pelita mengaku sudah menggandeng sejumlah donatur dan instansi. Hasilnya, sebanyak tiga titik warung kopi (Coffee Shop), dua di pantai wisata desa Kunjir dan satu titik di pantai desa Way Muli, mulai beroperasi.
Menurutnya, dukungan tersebut tidak melulu berupa finansial, melainkan peralatan serta fasilitas menghidupkan sektor pariwisata. Dukungan fasilitas diberikan juga dari sejumlah mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Muhamadiyah Yogyakarta, melalui pembuatan kamar mandi dan toilet di tempat pariwisata.
“Sinergi tersebut membuat sektor pariwisata bahari di Kunjir dan sekitarnya kembali pulih pada awal Februari ini,” pungkasnya.