PVMBG: Usai Erupsi Ketinggian Gunung Anak Krakatau Bertambah
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda terus membangun dirinya usai erupsi besar pada 22 Desember 2018 silam yang berimbas tsunami di Provinsi Banten dan Lampung.
Pos pengamatan gunungapi, Gunung Anak Krakatau, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, tubuh GAK yang berkurang usai erupsi dua bulan silam kini kembali meninggi.
Kepala Pos Pengamatan di Desa Hargo,Lampung Selatan, Andi Suardi menyebtukan, energi yang dikeluarkan dari dalam badan gunung atau kawah membuat material vulkanik terdorong menambah ketinggian. Semenjak 2012 hingga 2018, ketinggian GAK mencapai 338 meter di atas permukaan laut (Mdpl) selanjutnya berkurang menjadi 110 mdpl atau berkurang sebanyak 228 meter.
Setelah erups, GAK terus membangun dirinya dan bertambah tinggi mendekati akhir Februari. Andi Suardi menyebut erupsi membuat GAK semula memiliki ketinggian 110 Mdpl memiliki ketinggian sekitar 155 Mdpl atau bertambah sebanyak 45 meter dalam kurun waktu sekitar dua bulan. Secara visual GAK terlihat mulai hampir sejajar dengan pulau Sertung, Pulau Panjang yang berada di gugusan kepulauan Krakatau tersebut.
“Sebagai sebuah gunung berapi aktif, aktivitas bertambahnya ketinggian merupakan hal yang normal karena GAK akan terus membangun dirinya kembali mencapai ketinggian awal atau lebih tinggi dari sebelum tsunami,” terang Andi Suardi saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (25/2/2019)
“Rekomendasi bagi masyarakat nelayan dan wisatawan agar tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 5 kilometer dari kawah,”tegas Andi Suardi.
Andi Suardi juga menyebut aktivitas GAK dari pos pengamatan Gunung Anak Krakatau masih terlihat jelas. Sejumlah masyarakat yang ingin mengamati kondisi gunung berapi di Selat Sunda tersebut dapat mendatangi pos pantau GAK di desa Hargo Pancuran. Fasilitas berupa teropong atau binokular disebutnya bisa menjadi alat bantu melihat kondisi gunung berapi tersebut. Selain itu masyarakat juga bisa melihat sejarah perkembangan Krakatau di pos pengamatan yang berada di lereng Gunung Rajabasa tersebut.

Andi Suardi (kiri) kepala pos pengamatan menjelaskan kepada pengunjung kondisi gunung berapi di Selat Sunda. Foto: Henk Widi
Sekedar informasi, aktivitas GAK sesuai laporan Magma Volcanic Activity Report (VAR) pada pengamatan terakhir ketinggian 110 mdpl tercatat pada Sabtu (23/2).
Setelah mengalami erupsi dengan dominasi aktivitas kegempaan vulkanik dalam, tektonik serta tremor menerus GAK terpantau mengalami penambahan ketinggian pada Minggu (24/2). Penambahan ketinggian tersebut diakuinya ditandai dengan teramatinya letusan dengan ketinggian mencapai 500 meter dari puncak kawah dan asap warna putih.
Kondisi umum gunung terlihat jelas hingga kabut 0-III. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 50-100 m di atas puncak kawah. Secara meteorologi kondisi di sekitar gunung dalam keadaan cuaca cerah, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah ke arah timur laut, timur, dan barat daya. Suhu udara 25-33 °C, kelembaban udara 0-89 %, dan tekanan udara 0-0 mmHg.
Pada saat erupsi, alat pemantau mencatat adanya letusan dengan jumlah 1, amplitudo 25 mm, durasi : 271 detik. Kegempaan hembusan berjumlah 2, aplitudo 5-11 mm, durasi 17-51 detik. Kegempaan vulkanik dalam berjumlah 6, amplitudo 14-17 mm, S-P 0.5-1.2 detik, durasi 8-12 detik. Tremor menerus 1-9mm masih terekam dominan 1mm. Meski mengalami erupsi dan ketinggian bertambah, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau berada di level III atau berstatus Siaga.