Petani Rugi Besar Akibat Jebolnya Tanggul Sungai Way Pisang

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Ratusan petani di Desa Sukaraja, Desa Palas Bangunan, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), mengalami kerugian akibat banjir luapan Sungai Way Pisang.

Sugiyanto, salah satu petani penanam padi di Dusun Muara Badas, Desa Palas Bangunan, mengaku lahan sawah miliknya seluas satu hektare terendam air, akibat hujan deras yang melanda wilayah Lamsel sejak Jumat (15/2), Sabtu (16/2). Ketinggian air mencapai 1,5 meter, merendam areal persawahan tersebut.

Sugiyanto, petani di Dusun Muara Badas Desa Palas Bangunan Kecamatan Palas menyelamatkan benih padi yang hanyut akibat banjir -Foto: Henk Widijir

Sugiyanto, sedianya akan menanam bibit varietas padi Muncul pada akhir pekan ini. Namun akibat banjir, sejumlah bibit tanaman padi miliknya hanyut terbawa banjir.

Bibit yang sudah diikat dan siap tanam, terbawa banjir, sebagian bisa diselamatkan. Namun, air Sungai Way Pisang yang meluap, bisa surut dalam beberapa hari ke depan, karena tanggul jebol belum diperbaiki.

Sugiyanto menyebut, tanggul yang jebol di Desa Sukaraja berimbas ratusan hektare lahan pertanian sawah dan sayuran terendam. Kerugian akibat banjir diperkirakan mencapai puluhan juta. Di antaranya biaya pengolahan lahan, bibit yang hanyut terkena banjir.

Ia bahkan terpaksa harus menyiapkan bibit benih padi yang baru, akibat hanyut terbawa banjir. Lahan sawah yang sudah diolah juga tergerus air, sehingga pengolahan lahan dipastikan harus dilakukan lagi.

“Petani di wilayah Sukaraja mengalami kerugian, terutama yang belum memasuki masa tanam serta sebagian sudah ditanam pada usia sepekan, sebagian sebulan sehingga padi yang ditanam terendam air, jika tidak cepat surut tanaman dipastikan membusuk,” terang Sugiyanto, saat ditemui Cendana News, Sabtu (16/2/2019).

Sugiyanto mengungkapkan, bibit yang bisa diselamatkan dengan usia 25 hari, akan ditanam saat banjir mulai surut. Selama tanggul sungai Way Pisang belum diperbaiki, ia menyebut potensi banjir pada musim hujan bulan Februari ini masih akan terjadi.

Sebagai petani yang sudah memiliki bibit siap tanam, ia mengaku masih beruntung, sebab sebagian petani masih memiliki benih usia sepekan. Dipastikan, petani yang masih memiliki benih usia sepekan dan terendam air harus menebar benih kembali.

Petani lain yang mengalami kerugian akibat banjir, Suwigno, menyebut setengah hektare tanaman mentimun miliknya yang masih berusia sekitar dua pekan, terendam air dan lumpur, sehingga membusuk.

Suwigno menyebut, lahan tanaman mentimun miliknya tersebut ditanam dengan bibit sebanyak 14 bungkus, dengan harga beli sekitar Rp5 juta.

Selain itu, kebutuhan plastik untuk mulsa sebesar Rp2 juta dan pembuatan lanjaran dari bambu sekitar Rp1 juta. Selain itu, biaya operasional lain berupa pengolahan lahan, yang membutuhkan  biaya tidak sedikit.

“Kerugian tersebut sudah terlihat, karena semua tanaman mentimun yang sudah ditanam membusuk akibat terendam air banjir,” beber Suwigno.

Suwigno menyebut, tanaman mentimun yang membusuk, harus ditanam ulang. Proses penanaman ulang membutuhkan benih baru, mulsa baru serta lanjaran baru.

Akibat jebolnya tanggul di dekat lahan sawah tersebut, membawa material berupa pasir, lumpur dan kerikil masuk ke lahan dan menutupi sebagian lahan tanaman mentimun yang ditanam. Sesuai target, dalam kondisi normal mentimun tersebut bisa dipanen usia tiga bulan.

Suwigno, petani penanam timun di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Selain berakibat rusaknya lahan pertanian, jebolnya tanggul sungai Way Pisang juga berimbas akses jalan penghubung, rusak. Aspal serta batu mengelupas, sehingga mengganggu pengguna jalan. Akses jalan penghubung antara kecamatan Palas dan Sragi, pun masih belum diperbaiki.

Akibat banjir tersebut, sebagian talud penahan terbuat dari batu, hancur tergerus air. Suwigno berharap, pihak terkait bisa memperbaiki tanggul yang jebol, untuk menghindari banjir susulan.

Lihat juga...